Pengen Produktif Tapi Dikontrol Mood
Pengen Produktif Tapi Dikontrol Mood
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Host:
Gimana sih, Ustaz, caranya bisa benar-benar produktif? Jadi kalau kita mau produktif, benar-benar produktif, dan menggunakan waktu semaksimal mungkin, harus jadi orang yang…
Host:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Host:
Welcome to another episode of “Unspoken,” with our beloved teacher, Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri hafizahullah and— Brother Kiral, aka BK. I’m calling you BK for now, bro.
Host:
Okay, call me that. BK, Ustaz. BK. Right. Ustaz, thank you so much for being here.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Uh, my pleasure.
Host:
So, what do you have for us?
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Ada banyak, Ustaz. Kejadian di sosmed tuh cerita. Gimana sih, Ustaz, caranya bisa benar-benar produktif? Nggak mood-mood-an terus. Kadang sehari tuh bisa produktif, dua hari bisa, hari ketiga jebol lagi, Ustaz. Terus procrastination, nah itu, itu tuh sering banget terjadi, Ustaz. Apa-apa ditunda, ditunda, akhirnya nggak ke mana-mana. And doomscrolling.
Host:
Doomscrolling, yes.
Hakikat Nikmat Waktu dan Kesehatan
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Tapi bismillah, alhamdulillah, wassalatu wassalamu alaikum. Semoga Allah kasih ilmu nafi. Amin ya rabbal ‘alamin.
Yang pertama, ini masalah taufik ya. Masalah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang ditanyain Kiral dan teman-teman itu emang susah banget. Kenapa? Karena ini berkaitan dengan waktu. Ya kan, procrastination itu kan waktu. Terus screen time waktu.
Host (Kiral):
Exactly.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Gitu loh. Sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari No. 6412)
Ada dua nikmat yang paling sering dilalaikan oleh manusia. Yang pertama, as-sihah: kesehatan. Yang kedua, al-faragh: waktu luang. Dan itu real banget. Bahkan kita nggak nganggap itu sebuah nikmat.
Misalnya, Kiral survei ke random lah. Sebutkan 10 nikmat Allah yang lo dapat. Bukan ini. Berapa persen yang bilang pertama waktu? Biasanya kalau sebutin nikmat apa, nikmat Allah, 10 nikmat Allah yang paling berkesan di pekan ini, kira-kira jawabannya apa? Common answer lah.
Host (Kiral):
Ya, makanan, rezeki.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Makanan, rezeki. Terus?
Host (Kiral):
Harta.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Harta. Terus?
Host (Kiral):
Kesehatan ada sih, Ustaz. Sedikit. Kayak kalau lagi injured kali.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya. Pas injured baru sadar.
Host (Kiral):
Iya. Kalau nggak, nggak lah.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Kalau nggak, kayak take it for granted, right? Kayak default aja gitu harusnya.
Host (Kiral):
Iya, by default.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya, by default. “Gue berhak otomatis sehat,” gitu ya.
Host (Kiral):
Berhak otomatis sehat. Sehat bare minimum ya, sehat.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Bare minimum. Default, bro. Like, wajar sih gini. Manusia yang lain juga sehat kok.
Host (Kiral):
Iya.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Makanya sampai ulama mengatakan:
الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوسِ الأَصِحَّاءِ لَا يَرَاهُ إِلَّا المَرْضَى
“Kesehatan itu adalah mahkota yang disematkan di atas kepala orang-orang sehat, tetapi tidak ada yang bisa melihatnya kecuali orang sakit.”
Ya Allah. Dalem ya. Jadi sebenarnya kita kalau lagi sehat nih pada pakai mahkota.
Host (Kiral):
Allahu Akbar.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Dan mahkota mahal itu.
Host (Kiral):
Ya Allah.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Tapi kita nggak bisa lihat. Sampai kita sakit. Benar sakit. “Iya, lo beruntung, bro,” gitu loh. “Lo nggak harus cuci darah kayak gue,” kan gitu. “Lo bersyukur, sis. Lo nggak harus kemo kayak gue.” Iya kan gitu. Kan banyak kok. Misalnya banyak, banyak orang gitu nggak bersyukur dengan bentuk tubuhnya, padahal ketika dikasih sehat aja, harta dunia tuh nggak ada apa-apanya udah. Dikasih sehat ya.
Makanya kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dua nikmat yang paling, atau yang suka dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang. Iya. Jadi memang ini PR besar lah. Ini kan lalai kan?
Kunci Produktivitas: Mengingat Allah (Zikir)
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Nah, berarti kalau kita mau berhasil, antitesisnya kita kerjain. Apa lawannya lalai? Zikir. Jadi kalau kita mau produktif, benar-benar produktif, dan menggunakan waktu semaksimal mungkin, harus jadi orang yang kuat ingat Allah dan kuat berzikir.
Host (Kiral):
Masya Allah. Ke zikir perginya ya.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya lah. Orang kalau nginget, ingat terus sama Allah, nggak berani dia buang-buang waktu. Wah. Allah lihat, bro. Ya kan.
Ya dulu suka main di kelas nggak?
Host (Kiral):
Suka, Ustaz.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Kalau di kelas tuh biasanya main apa?
Host (Kiral):
Berhubungan dengan lempar-lempar ada di kelas. Terus ada apa sih yang—
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Lintas generasi berarti ya. Lempar-lempar.
Host (Kiral):
Lempar-lemparan. Hasilnya dilempar sama guru. Terus yang main kuda tomblok tuh ada nggak sih? Yang kita-kita tuh nunduk, nunduk, nunduk, nunduk, terus diloncatin, diloncatin.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Oh iya ada. Loncatin. Nah, pertanyaannya, itu kan buang-buang waktu sebenarnya ya.
Host (Kiral):
Iya.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Kapan kita lakukan? Pas guru nggak ada. Pas. Iya. Sehingga guru nggak ngelihat. Tapi kalau guru ngelihat, mana berani kita begitu. Waduh.
Nah, kalau kita yakin Allah As-Sami’ul Bashir, Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar, ya kita nggak berani screen time lama-lama lah. Iya. Itu kita lupa. Kuncinya ngingat Allah.
Motivasi Produktivitas Seorang Mukmin
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Makanya orang-orang beriman kan, apa namanya, dikatakan oleh Nabi kita Shallallahu Alaihi Wasallam:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَصِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika hari kiamat telah tegak (hampir terjadi) dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon kurma, maka jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad No. 12981, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 479, disahihkan oleh Al-Albani)
Jika datang hari kiamat dan di tangan salah seorang dari kalian tuh ada bibit, kalau dia bisa menanamnya sebelum kejadian hari kiamat, tanam. Kurang produktif apa? Wah. Hadis Bukhari dan Muslim.
Dan Kiral jangan nanya kapan panennya. Udah. Ini hari kiamat nih. Hari kiamat. Udah nggak bicara panen.
Host (Kiral):
Iya.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Tapi masih sempat untuk nanam. Tanam. Itulah bagaimana keikhlasan dan iman serta tauhid itu membuat seorang mukmin harusnya lebih produktif daripada yang nggak beriman. Karena dari hadis ini, motivasi orang produktif adalah mencari rida Allah. Bukan balik modal. Bukan break even. “Gue nggak peduli hasilnya. Yang penting gue kerjain.” Wow.
Tentu saja perhitungan ya.
Host (Kiral):
Iya, iya, iya.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Kan nanam juga ada caranya.
Host (Kiral):
Iya, iya.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Sampai kalaupun sangat minim opsi panennya, tetap saya tanam. Kalau hanya bisa tanam. Bahkan kalau nggak ada, nggak ada, nggak ada peluang untuk panen, dan tapi kita masih bisa nanam, tanam. Ini kan nggak ada, nggak ada opportunity untuk panen. Kalau hari itu hari kiamat.
Host (Kiral):
Karena dia takut akan Allah tanya nanti, “How do you use your time?” gitu ya, Ustaz.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Karena pertama, dia termotivasi perintah Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan dia ingin cari rida Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang kedua, dia khawatir waktunya ditanya sama Allah.
Ya, lagi-lagi ini konsepnya ya. Kita nggak, kita nggak, nggak lebih baik daripada yang lain lah. Kita yang lain masih struggle, kita juga masih struggle dalam produktivitas dan dalam menjaga waktu, tapi ya gitu. Harusnya demikian gitu loh.
Produktivitas Para Ulama Terdahulu
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Makanya orang-orang beriman, apalagi di masa-masa kejayaan Islam dulu, itu kan sangat produktif. Ada Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala, usia kurang lebih 45 tahun. Karyanya? Masya Allah. Ada Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, itu 9-10 jilid. Raudhatut Thalibin, itu juga 9-10 jilid. Tergantung cetakan ya. Lalu ada Minhajut Thalibin, itu juga buku yang diterima oleh umat. Lalu Riyadhus Shalihin, satu jilid.
Jadi Imam Nawawi 45 tahun nulis berbagai macam kitab. Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, Arbain Nawawiyah, At-Tibyan, lalu Al-Minhaj, Raudhah. Sedangkan kita udah kepala empat, jangankan nulis, baca Riyadhus Shalihin aja nggak tamat-tamat. Bacanya ya, gimana nulisnya. Bacanya nggak selesai-selesai.
Konsep Keberkahan Waktu
Host (Kiral):
Ustaz, bisa tolong jelasin dikit nggak, Ustaz, tentang konsep keberkahan waktu ini, Ustaz? Karena saya lihat di sekeliling saya tuh ada yang emang this person itu waktunya produktif banget, dari satu kotak ke kotak lain, pindah-pindah, pindah-pindah, pindah-pindah. Terus. Tapi very productive. Seharusnya kan logikanya, where do you find time to do that? Semua orang punya 24 jam yang sama kan, bro?
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya. Kunci terbaik keberkahan waktu itu kejujuran. As-siddiq sama Allah. Jujur sama Allah. Keikhlasan. Nggak galak-galak. Lalu mengerti skala prioritas. Oke. Jadi first thing first itu penting.
Host (Kiral):
First thing first.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
First thing first itu penting. Seringkali kita nggak, nggak ngerjain yang prioritas. Di antara prioritas, waktu salat-salat. Iya. Nanti Allah kasih keberkahan. Masya Allah. Waktu puasa-puasa. Waktu tarawih-tarawih. “Tapi nanti job gue nggak kelar.” Lo jangan pakai logika lo. Nanti Allah akan buat berkah waktunya. Buat skala prioritas. Masya Allah. Masya Allah.
Host (Kiral):
Ustaz, thank you so much for your knowledge and wisdom. As always, alhamdulillah sangat bermanfaat untuk kami berdua, dan semoga bermanfaat juga untuk teman-teman yang nonton, insya Allah. Amin, amin.
Ketemu lagi di episode of Unspoken berikutnya, insya Allah.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
