Share

Aku Capek Banget Sama Hidup

Aku Capek Banget Sama Hidup

Aku Capek Banget Sama Hidup

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Welcome to another episode of “Unspoken,” with our beloved teacher Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri Hafizhahullah and our brother Kiral. Ustaz and Kiral, thank you so much for being here.

My pleasure.

Ada pertanyaan apa dulu?

Lelah Fisik vs Lelah Mental

Ustaz, ada banyak orang udah capek, Ustaz, sama hidup. Mereka ini…

Tunggu, tunggu. Artinya bicara lingkungan kamu, kan?

Iya, Ustaz. Capek banget. Ada banyak orang. Lingkunannya mungkin speak for everyone. We speak for everyone. We present. Capek sama hidup, Ustaz. Nah, sebenarnya kita ini butuh healing atau kurang berzikir sih, Ustaz?

بِسْمِ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ

Yang pertama, kalau capek, kurang tidur menurut Ustaz. Itu salah satunya. Kurang tidur, kurang istirahat. Kurang istirahat. Itu kalau capeknya fisik.

Oh, capek fisik. Lelahnya fisik.

Nah, ini lelahnya apa nih, lelah?

Mental, Ustaz. Mental.

Hakikat Healing dan Zikir

Kalau mental, sebenarnya kan zikir sama healing itu apa sih? Healing kan berobat, kan?

Exactly. Berobat.

Jadi, sebenarnya nggak ada kontradiksi antara healing dengan zikir. Dengan zikir. Kecuali kalau healing itu punya tafsir khusus. Punya. Misalnya vacation ke sebuah tempat, atau trip, atau segala macam. Itu maksud healing-nya.

Iya, maksud healing-nya.

Jadi kalau healing yang benar apa? Ya zikir. Makanya ulama menjelaskan bahwa fungsi dari zikir itu dawa’. Obat. Jadi kalau mau berobat yang benar untuk jiwa, ya zikir udah. Allahu Akbar.

Adapun kalau jalan ke tempat A, tempat B, negara A, itu nggak bisa menyelesaikan masalah. Benar. Apalagi selama trip belanja. Iya. Uang pas-pasan. Tambah lelah ketika pulang. Aduh. Nambah masalah. Nambah masalah. Lumayan kalau ada kejadian A, kejadian B, kejadian C selama di sana.

Kalau kita yang bicara healing yang real, ya berzikir.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Surah Ar-Ra’d: 13:28)

Kata Allah, dengan mengingat Allah, hati jadi tenang. Hati jadi tenang, jadi sehat, jadi nyaman. Jadi zikir itulah sebenar-benarnya healing.

Jadi kita nggak boleh healing dengan melakukan trip?

Ya selama halal, boleh-boleh aja. Tapi apakah itu obat yang ampuh untuk jiwa? Selama nggak zikir. Apalagi nggak sholat di sana. Banyak orang nggak sholat loh. Nggak semua ya. Nah gimana mau sehat dari kelelahan jiwa tersebut?

Dan manusianya itu yang travel, healing, pergi ke suatu tempat, ya dia juga. Artinya jiwanya jiwa dia, orangnya orangnya dia lagi. Jadi dipindahin pun masalah tetap ada di dia. Jadi emang harus…

Iya, tapi kan biasnya tuh karena provokasinya, pemicunya tuh kan ada di tanah air. Oke. Kerjaannya misalnya bosnya suka marah-marah, istrinya suka nuntut. Menjauh dari… Suami yang egois, anak-anak yang nggak bisa diatur, orang tua yang mau menang sendiri, mertua yang jelesan. Itu kan semua ada di tanah air. Kecuali kalau semua ikutan. Nah itu lebih repot lagi. Jadi dia yang bayarin lagi. Nggak ada healing-healing-nya, Ustaz.

Kiral ketawanya dalam. Berempati dia. Iya. Nggak dialah. Dia berempati. Nah itu yang agak berat. Itu berat banget. Tapi kan pada dasarnya itu tadi. Orang kalau healing tuh pemicunya, atau provokasinya, atau provokatornya nggak ikut ada di tanah air. Karena kalau ikut juga… Iya. Nah itu biasnya dipikir bahwa dengan menjauh dari mereka, atau dari kerjaan, atau dari tanggung jawab, gue bisa healing.

Padahal tadi kata Ori, inti dari sakit itu, walaupun pemicunya dari luar, tapi intinya itu masalah di dalam. Karena masalah di dalam itulah obatnya zikir. Makanya Allah berfirman dalam surat Al-Isra 82 tentang Al-Qur’an:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Surah Al-Isra: 17:82)

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an ayat-ayat yang fungsinya seperti fungsinya tuh obat. Dan rahmah, kasih sayang bagi orang-orang beriman. Makanya kalau healing, baca Qur’an. Zikir. Sholat dijaga.

Zikir Sebagai Kebutuhan Jiwa

Iya. Ada yang nyampaikan, Ustaz, kalau kita lapar makan nih. Iya. Sedangkan jiwa itu butuh… Iya. Zikir itu sebagai makanan gitu. Itu memahami gimana?

Bahkan sebagian ulama mengatakan zikir itu ibarat air bagi seekor ikan. Wah, pokor banget.

Karena kan kalau haus kan ada, eh sorry, kalau butuh air kan ada sinyalnya haus, Ustaz. Tapi kalau jiwa itu kan kadang sinyalnya kurang.

Tapi kering itu kerasa sih. Sinyalnya ada.

Oh, ada ya?

Ada, ada. Ada dong. Sama kayak silent killer, penyakit fisik. Kan ada sinyal. Tapi kita nggak ngeh. Jantung, ada sinyalnya nggak? Ada. Kanser, ada sinyalnya nggak sebelumnya? Ada. Dokter-dokter bisa jelasin. Cuman kita nggak sadar ketika sinyal itu bunyi. Jadi kita mengabaikan. Saat sinyal itu bunyi, kita nggak merespons. Awalnya begitu. Iya. Nggak merespon. Dan seringkali kita nggak, kenapa nggak respon? Nggak sadar. Nggak sadar. Semua ada simptom. Tapi masalahnya kan penyakit-penyakit yang silent killer itu simptomnya samar. Ini kata dokter ya. Iya, iya. Kalau apa, correct me if I’m wrong.

Jadi penyakit-penyakit jiwa itu ada sinyalnya. Contohnya sholat nggak khusyuk. Itu kan sinyal. Ada masalah nih dalam diri lo. Gampang marah. Iya. Oke. Kenapa ya, apa, kenapa gue jadi baper gini? Padahal gue biasanya nggak baper. Jadi banyak sinyal lah. Banyak sinyal. Banyak sinyal untuk ini. Atau kok pekan ini semua urusan riwet dan nggak ada yang selesai. Itu sinyal juga. Kadang kita punya masalah dengan Allah.

Tapi kayak anxiety yang disebabkan oleh social media gitu kan. A lot of our friends are exposed with social medias dan ekspektasi-ekspektasi dari social medias. Itu menambah that feeling of inadequacy-nya ketidaksempurnaan dia. Dan menambah kebutuhan untuk healing, Ustaz. Gimana ya, Ustaz?

Iya, tapi kalau healing-nya tuh zikir. Healing-nya pergi. Itu zikir. Nggak menyelesaikan. Dan coba gini aja deh. Kan daripada misalnya ada orang tanya sama yang sudah menerapkan, emang bener selesai begitu pulang ke tanah air? Enggak. Enggak juga. Gitu loh.

Misalnya dia punya masalah sama spouse-nya, sama suaminya atau istrinya. Iya. Oke. Kayaknya, beb, kayaknya aku perlu healing sendirian. Mau ke Kapadokia misalnya. Iya. Atau mau ke mana sih? Biasanya healing sendirian ke mana? Ke… Kalau cewek ke mana? Paris. Paris ya? Atau… Jepang. Jepang. Kalau ini ya? Laki-laki? Laki-laki ke mana ya? Mana yang macho ya? Coba liat macho ya. Macho apa? Udah ke sana macho gitu. Jadi susah nih jalannya. Pressure, bro. Udah di-judge nih. Kena lagi. Entar. Ya let’s say ke US, Ustaz. Atau nonton bola di mana gitu.

Oke, udah nih 2 minggu di sana. Pulang. Iya. Emang selesai tuh urusan rumah tangga? Kan nggak. Nggak gitu loh. Nggak selesai. Ribut lagi. Atau pulang minta maaf gitu sama suami. “Aku mohon maaf ya, aku ternyata banyak ini.” Terus suami juga, “Minta maaf banget karena aku egois.” Kan nggak begitu. Nggak ada yang berubah. Nothing happens. Iya. Nothing happens. Beda kalau orang berzikir, dekat dengan Qur’an, terus belajar agama, ikut kajian, dapat ilmu. Itu ada solusi. Ya. Bener nggak?

Jadi healing yang sebenarnya itu beribadah ya, Ustaz? Berzikir. Beribadah dan berzikir. Ingat sama Allah. Itu yang membuat tenang. Karena Allah yang berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Surah Ar-Ra’d: 13:28)

Kata Allah, dengan ingat sama Allah, hati itu jadi tenang. Hati itu jadi nyaman.

Jadi Allah yang ciptain kita, udah diprogram seperti itu, dan solusinya itu ya, Ustaz?

Iya. Dan nggak ada ayat atau hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang menjelaskan sebatas traveling atau melakukan trip, hati jadi tenang. Nggak ada satu pun ayat. Kecuali kalau isi dari trip itu berzikir. Tapi kalau cuma jalan. Apalagi kita belum bicara di sana maksiat loh. Ada banyak orang begitu trip-nya maksiat. Karena sendirian. Atau sama teman-temannya doang. Gitu loh. Masya Allah.

Kita banyak lebih percaya sama janji wisata ya, Ustaz, daripada janji Allah ya, Ustaz?

Janji wisata. Benar. Janji wisata itu nama salah satu traveler. Aduh. Ya karena kan kalau kita lihat di IG, terus like TikTok, like semua tuh kayak happy banget loh. Lagi lens-nya, terus filter-nya. Ngeliat. Cinematography-nya. Everything. Inilah solusi penyakit hatimu saat ini. Iya. Ternyata nggak itu ya.

Dan coba nih. Kadang-kadang banyak teman-teman tuh nggak mau nyoba. Udah antipati doang, padahal belum nyoba. Dan yang disayangkan, pola mereka terbukti never works. Tapi dicoba, diulang-ulang, diulang. Padahal ini udah terbukti nggak pernah berhasil. Ini ada formula dari pencipta kamu. Kenapa nggak pernah dicoba? Harus dicoba. Dirutinkan. Dimaksimalkan lagi. Insya Allah. Karena solusinya udah ada di Allah kasih ya.

Ustaz, thank you so much for the wisdom and knowledge dan sangat bermanfaat untuk kami berdua terutama. Dan semoga bermanfaat untuk teman-teman yang nonton. Insya Allah kita akan kembali bersama lagi di Unspoken episode berikutnya.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

You may also like