Gimana Bisa Mulai Dekat dengan Allah — Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri | Unspoken Ep. 01
Gimana Bisa Mulai Dekat dengan Allah — Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Host:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Welcome, my brothers and sisters in deen, to our first episode of “Unspoken,” ruang di mana pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita pikirkan mungkin cuma kita simpan aja. Bersama guru kita, Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri Hafizhahullah. Thank you so much for being here.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
My pleasure.
Host:
And Brother Kiral, how are you, bro?
Kiral:
Good, good. How are you?
Host:
I’m good, Alhamdulillah. Kiral, in our young generations has a lot of challenges, ya. I can empathize with some of them. Do you mind sharing a little bit, bro? Apa aja sih challenges yang teman-teman kita hadapi sekarang?
Kiral:
Sebelumnya terima kasih, Mas. Sorry. Ustaz, teman-teman saya itu pengin membangun hubungan dengan Allah, tapi mereka nggak tahu caranya gimana. Mereka bahkan bingung mulainya dari mana. Mungkin Ustaz ada tips?
Langkah Pertama: Mengapresiasi Niat Baik
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Baik.
بِسْمِ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ
Yang pertama, punya niat kayak gitu tuh bagus banget. Dan kalau kamu punya teman demikian, apresiasi. Karena itu first step untuk jadi orang yang jauh lebih baik lagi. Karena banyak orang tuh nggak mikir ke arah sana. Bahkan banyak yang marah-marah sama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi kalau ada orang, “Gue pengin bangun koneksi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” itu positif banget dan harus segera diapresiasi, gitu loh. Karena kalau nggak, bahaya.
Dan sebenarnya fenomena ini tuh bukan baru pertama kali. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mention orang yang berlumuran dosa, dia ngebunuh 99 nyawa. 99 orang dibunuh sama dia. Tapi kita masih ada harapan. Amin. Sebandel-bandelnya orang sekarang ngapain sih, gitu loh? Pergaulan bebas, narkoba. Parah juga sih, memang. Tapi 99 nyawa tuh parahnya minta ampun. Tapi dia pengin kembali kepada Allah. Dia pengin punya connection dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia pergi ke rahib, tapi nggak direspon positif sama rahib. Emang pentingnya respon nih. Katanya nggak bisa, udah kebanyakan. Karena nggak direspon positif, “Ya kalau gue 99 masuk neraka, bedanya sama 100 apa ya? Masuk neraka juga. Ya udah, gue eksekusi aja. Sama juga 99 neraka, 100 neraka. Gue eksekusi.” Akhirnya dieksekusi itu rahib. Rahib itu ahli ibadah, gitu. Orang baik tapi nggak punya ilmu pada konteks ini.
Nah, itu bahaya kalau kita nggak respon positif orang kayak begini. Bahkan bisa jadi membahayakan diri kita juga, sebagaimana hadis ini. Jadi bukan hanya membahayakan dia, tapi membahayakan kita atau bahkan orang lain. Kalau dalam konteks ini kan yang ngejawab, yang dieksekusi. Tapi bisa jadi orang lain di luar sana. Mungkin dia punya masalah, habis dari situ terus ingat, “Gue nggak punya harapan lagi.” Oh udah, gue sikat aja nih orang. Nanti sikat lagi tuh orang. Jadi korbannya banyak. Jadi ini pentingnya merespon positif dan memberikan harapan. Itu penting banget.
Pintu Tobat Selalu Terbuka
Kembali ke kisah tadi. Walaupun demikian, tapi Allah masih kasih hidayah buat orang ini. Di hati kecilnya tuh masih hidup keinginan untuk kembali ke Allah, punya koneksi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu dia coba pihak lain. Dia datang ke alim. Alim itu orang yang punya ilmu agama. Lalu tanya, “Aku nih udah bunuh 100 nyawa. Gimana? Pengin ke Allah, nggak tahu caranya.”
Apa jawaban dari alim tersebut? Kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:
وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟
“Siapa yang bisa menghalangi Anda dari tobat?” (HR. Muslim No. 2766)
“Siapa yang bisa menghalangi Anda dari spirit untuk kembali ke Allah, punya connection dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Nggak ada. Artinya pintu kebuka, gitu loh. 100 nyawa, pintu kebuka, gitu.
Jadi inilah yang harus kita katakan kepada seluruh teman-teman yang ingin baik. Khususnya di Ramadan kan. Ini Ramadan kan bulan yang penuh keberkahan. Banyak orang yang nggak pernah salat, akhirnya ke masjid, gitu loh. Jadi banyak penampakan-penampakan di Ramadan yang nggak pernah kelihatan. Di masjid muncul nih di malam pertama tarawih, gitu loh. Yang nggak pernah menampakkan dirinya di salat Jumat, hadir ketika Ramadan. Jadi akan banyak penampakan di Ramadan. Nah, itu tuh benar-benar direspon positif, gitu loh.
Dan sampaikan apa yang Allah firmankan. Misalnya dalam surat Al-Baqarah 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Surah Al-Baqarah: 2:186)
“Kalau hambaku bertanya kepada diriku, bilang, ‘Aku dekat.'” Gitu loh.
“Kayaknya gue pengin berubah.” Bisa, bro.
“Tapi kayaknya gue terlalu jauh, atau susah banget menggapai.”
Nggak, dekat, gitu. Dekat, gitu.
أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Aku kabulkan doa orang yang berdoa.”
Jadi itu pelajaran juga. Lu doa sama Allah, minta petunjuk, minta hidayah, minta kedekatan, minta hubungan yang intimate dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nanti Allah kasih.
“Tapi gue kotor nih, gitu loh. Gue penuh dengan dosa.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala justru memotivasi orang kayak begitu. Allah berfirman dalam surat Az-Zumar 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (Surah Az-Zumar: 39:53)
“Eh, bilang ke orang-orang yang melampaui batas, yang bandel, yang kotor, berlumuran dosa, yang jangkislah atau dia minum-minumlah, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Eh, ayo terus semangat dong, kalian masih punya harapan. Pintuku masih terbuka.” Kira-kira demikian.
Karena Allah mengatakan:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.”
“Sekotor apapun kalian, jangan pernah kehilangan harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
“Allah mengampuni seluruh dosa kalau kalian tobat. Allah ampuni.”
Lalu Allah tutup, “Allah sesungguhnya Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Jadi ayat ini ditujukan ke semua pihak yang kotor dengan dosa. Dan closing-nya adalah, “Rabmu itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Gitu loh. Jadi Allah nggak menutup ayat ini dengan, “Allah syadidul iqab (Maha Pedih siksanya).”
Sering nggak sih ketika kita buat kesalahan, terus kita dapat kabar gitu dari saudara kita, “Loh, buat apa sih? Bokap ngomel tuh.” Gitu loh.
Host:
Sering, sering. Gitu ya. Sering. Sering banget.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
“Loh, buat apa sih?” Gitu loh. “Bokap marah-marah tuh ke gue.” Misalnya kakak kita bilang demikian. Ini enggak. Allah bilang:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
“Jangan pernah putus asa. Allah ampuni semua dosa-dosa Anda selama Anda tobat. Anda balik nih. Coba melangkahlah.”
Nah, kalau Allah buka rahmat-Nya dan nggak pernah tutup rahmat tersebut, ya masa kita tutup pintu kita? Nah, kadang-kadang itu kita galak sama mereka dan kita jadi judgemental kepada mereka. Padahal kita bisanya lebih kotor dari mereka. Merasa diri lebih baik itu kan kotor. Kotoran hati, sombong.
Kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim No. 91)
“Enggak masuk surga.” Orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun partikel terkecil. Dan apa arti sombong?
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim No. 91)
“Menolak kebenaran dan ngeremehin orang.” Hadis Muslim. Nganggap orang tuh kotor, lebih rendah daripada kita. Jadi seringkali membuat sebagian teman-teman enggak kembali lagi itu judgemental dari kita-kita atau sebagian kita. Nah, itu yang harus dibuka, gitu loh.
Bahaya Mendiagnosis Diri Sendiri Tanpa Ilmu
Host:
Jadi ada sense of hopelessness itu saat kita merasa so many sins gitu ya, terlalu banyak berdosa gitu. Apalagi mungkin teman-teman yang belum dengar tentang dalil ini, Ustaz. Karena saya pribadi dalil yang 99 plus satu nyawa ini it really helped me kayak, “Alhamdulillah I’m not as bad as him tapi Allah masih ampuni dan he went to heaven gitu kan.” Tapi beberapa teman-teman kan mungkin enggak dengar dalil ini, Ustaz. Dan there’s always that sense of hopelessness kayak pakai logika sendiri mungkin ya gitu. Kayak hitung-hitungan sendiri kayak, “Wah nih dosa gua udah banyak. Waduh enggak bisa nih gue.”
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Itulah pentingnya kita angkat hadis ini. Jadi ini pembunuh nih. Ini ini orang kotorlah dengan dosa dan berlumuran darah orang 99. Tapi dia masih punya kerangka berpikir yang tepat gitu loh. “Gua enggak tahu, gua enggak boleh nyimpulin sendiri. Gua enggak tahu, gua enggak boleh buat diagnosa sendiri.” Kan gitu.
Kita sakit nih kan kita enggak boleh buat diagnosa tentang diri kita. Walaupun yang sakit kepala kita, yang sakit gigi kita, yang sakit bagian perut kita, yang sakit kaki kita. Tapi lu enggak punya kapasitas untuk mendiagnosa itu. Caranya gimana? Lu ke dokter.
Nah, pembunuh ini terlepas dari besarnya dosa dia, dia ngerti, “Gua nih enggak ngerti apa-apa. Gua clueless. Gua enggak punya ilmu.” Maka dia cari orang. Di kesempatan pertama dia salah orang. Dia nanya kepada orang yang hanya parameternya saleh aja. Karena kan enggak semua orang saleh punya ilmu yang luas, yang dalam gitu loh. Akhirnya dia salah, jawabannya salah. Nah, tapi dari situ dia belajar dari kesalahan tersebut. Walaupun dia buat kesalahan yang lebih parah juga dibunuh lagi tuh orang.
Yang kedua dia tanya kepada al-alim, ahli ilmu. Jadi kalau kita clueless, jangan simpulkan sendiri, jangan buat hipotesa sendiri, jangan tegak diagnosa sendiri. Tanya dokternya. Dan kata Ibnu Qayyim dan para ulama kita, kalau bicara hati, jiwa, dan itu, dokternya adalah ahli ilmu. Datang ke ahli ilmu sebagaimana kisah pembunuh 100 nyawa tadi, 99 plus 1 ya. Akhirnya dapat solusi. Dan ternyata kesalahan 99 plus 1 itu bukan kartu mati. Wow. Itu pentingnya ilmu.
Host:
Iya. Iya. Betul. Pentingnya tuh.
Langkah Kedua: Mencari Ahli Ilmu
Host:
Jadi Ustaz, can I say that kalau Ustaz tadi bilang first step-nya adalah menyadari, berarti second step-nya adalah cari ahli ilmu.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya. Cari sosok mau teman kah, mau senior kah, mau siapapun. Kalau bisa benar-benar punya kapasitas ya, ahli ilmu atau ustaz atau guru yang punya kapasitas, tanya deh. Karena salah orang fatal.
Host:
Oh iya. Dan sekarang tuh challenge-nya Ustaz, banyak so-called expert gitu loh. Dan teman-teman kita ini makin so many different content gitu kan ya, yang we just clips here and there gitu dan merasa udah cukup ini untuk nge-form opinion mereka atau decision mereka yang padahal impact-nya besar banget ke kehidupan mereka. Ustaz, Kiral have seen this you know like banyak banget yang kayak begini. Jadi mereka cari spiritual journey-nya ke arah yang salah Ustaz, seringkali itu lagi mess dan juga apa kayak ada illusion of knowledge gitu kayaknya, “Gua bisa deh mikir sendiri gitu loh, I’m an independent thinker.”
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Ternyata itulah kelebihan dan pelajaran mahal dari si pembunuh 100 nyawa ini. Dia memang melakukan kesalahan, tapi dia enggak berbicara tanpa ilmu, enggak nyimpulin tanpa ilmu. Makanya kata para ulama gini loh, “Rahimallahu nafsi,” Allah merahmati orang yang tahu kapasitas diri. Kita harus ngerti itu tadi. Ketika kita sakit, kita harus sadar kita masyarakat umum, “Gua bukan dokter jadi gua enggak bisa menyimpulkan.”
Host:
Iya. Iya.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Bahkan walaupun kita tes lab aja, itu hasil tes lab harus dikasih ke dokter. Enggak bisa kita baca sendiri. Padahal angkanya sudah jelas nih. Trombosit sudah ada, segala macam sudah ada. Tapi bukan lu yang baca itu, enggak boleh gitu loh. Lu harus kasih ke ahlinya. Itu poin.
Host:
Heeh.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Nah, ketika kita menyimpulkan tanpa ilmu, di situlah bencana terjadi. Dan sebenarnya sikapnya rahib di hadis tadi itu memberikan pesan. Rahib itu masalahnya apa sih? Kenapa nyawanya melayang? Kenapa dia mati? Karena dia menyimpulkan tanpa ilmu.
Host:
Hm.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Jadi memang dari peran beda memang, tapi dari benang merahnya sama bahwa setiap orang menyimpulkan tanpa ilmu akan fatal. Akan fatal. Bisa jadi nyawa hilang. Jadi hilangnya nyawa dia salah satunya karena dia berbicara sesuatu yang bukan ilmunya. Enggak boleh. Makanya kan ada istilah para ulama tuh:
مَنْ تَكَلَّمَ فِي غَيْرِ فَنِّهِ أَتَى بِالْعَجَائِبِ
“Barang siapa yang berbicara di luar ekspertisnya, di luar bidangnya, dia akan menyampaikan keajaiban demi keajaiban.”
Karena dia bukan expert.
Host:
Dan yang saya perhatiin Ustaz, beberapa so-called expert ini mereka bicara tuh very confident Ustaz. PD banget. Kayak sedangkan saat saya perhatikan mentor-mentor saya yang ahli banget di bidangnya, they speak there’s always a sense of “may not be true ya hypothesis-nya”. Tapi kalau yang enggak ahli gitu tapi kesannya ahli tuh PD banget Ustaz.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Ya seperti kasus tadi hadis tadi ya, rahib itu kan PD juga, “Nggak ada, nggak ada tobat.” PD banget gitu loh. Dia nggak bilang, “Kayaknya saya belum belajar tentang ini,” atau, “Coba saya tanyakan dulu ya,” atau, “Saya bukan orang yang tepat.” Emang fenomena itu dari dulu gitu loh.
Terus yang kedua, jenjang ilmu tuh demikian. Semakin ilmu itu dalam, semakin takut kepada Allah. Dan semakin takut kepada Allah, semakin hati-hati bicara dan semakin hati-hati buat kesimpulan. Makanya Allah berfirman dalam surat Fatir ayat 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Ku, hanyalah para ulama.” (Surah Fatir: 35:28)
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang punya ilmu.” Wow.
Makanya sebagian ulama mengatakan bahwa al-ilmu al-khasyah. Ilmu itu intinya rasa takut kepada Allah. Bukan cukup hanya rasa, enggak gitu. Ilmu tuh banyak. Tapi ilmu yang benar, ilmu yang bermanfaat akan menumbuhkan rasa takut. Dan salah satu fungsi rasa takut membuat orang hati-hati dalam bicara. Karena dia takut dihisab, dia takut diminta pertanggungjawaban, dia takut Allah marah kalau dia salah, dia takut Allah murka sama dia. Gitu loh.
Memang itu salah satu ciri khas. Begitu ilmunya fake atau enggak punya ilmu, otomatis rasa takutnya juga pudar, enggak banyak. Itu bukan mengejutkan karena memang itulah kausalitasnya. Semakin banyak ilmu akan melahirkan rasa takut yang kuat. Masyaallah gitu.
Cara Menyaring Informasi dan Ilmu
Host:
Jadi teman-teman sekarang ini harus lebih concern ya how they consume knowledge itu ya Ustaz ya. Karena ya lantang banget Ustaz, like so confident. Sedangkan di satu sisi yang meng-consume ilmu tersebut mereka enggak tahu. So when someone say confidently it’s natural kalau kita akan accept, right? Gitu loh. Especially for younger generation. Kena tuh ya.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya kena pasti. Jadi makanya kata para ulama seperti Ibnu Jamaah, sebelum kita cari referensi, doa dulu sama Allah. Masyaallah. Istikharah dulu. Istikharah tuh bagi teman-teman yang belum tahu, minta arahan sebelum mengambil keputusan. “Kayaknya gua pengin belajar sama ini nih.” Tanya sama Allah dulu.
Lalu lihat apakah yang disampaikan itu punya referensi atau dalil atau enggak. Apakah dari Al-Qur’an surat apa ayat berapa, atau dari hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Terus hadisnya valid atau enggak. Lalu ada keterangan ulamanya atau enggak, gitu loh. Jangan sampai Al-Qur’an dan hadis itu dipahami dengan pemahaman pribadi, gitu loh. Ini kan bahaya juga gitu. Jadi ini pemahaman siapa? Apakah ini pemahaman pribadi dia atau kembali kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, para sahabat, lalu para ulama kita yang dituangkan dalam referensi-referensi yang jelas, gitu loh.
Host:
Itu ada trigger dari hati untuk to do good things walaupun like you already did a lot of bad things gitu kan. Kalau gitu Allah sudah emang siapkan itu di hati manusia.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Itu taufik dari Allah dan enggak semua orang. Iya. Abu Jahal enggak dapat itu. Abu Lahab turun surat gitu loh, tetap aja dia enggak itu. Namun di sisi lain, itu menunjukkan memang ada ketulusan dan kebaikan di lubuk hati yang paling dalam dari pembunuh tersebut. Wow.
Host:
Terima kasih banyak atas ilmunya Ustaz. Insyaallah sangat bermanfaat untuk kami dan semoga juga untuk brothers and sisters yang nonton. Insyaallah kita ketemu lagi di sesi berikutnya di Unspoken.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
