Share

Kalau Aku Biasa Aja… Aku Tetap Berharga?

kalau aku biasa saja - aku tetap berharga

Pembicara: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri
Acara: Unspoken Ep. 61


Pendahuluan

Kiral:
Ustaz, ada yang seumuran udah sukses. Ustaz punya karir bagus, punya bisnis, ada yang traveling ke mana-mana, hidupnya kelihatan terus naik. Terus pas lihat hidup diri sendiri, yang ternyata biasa aja, bisa jadi sesuatu— Nggak pernah viral di dunia, tapi hamba Allah di atas langit itu mengenal Dia. Jadi tidak dikenal oleh manusia bukan berarti tidak dikenal oleh Allah.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Kiral:
Welcome to Unspoken, with our beloved teacher Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri, hafizhahullah, and our brother Kiral. Ustaz, thank you so much for being here.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Thank you, bro.


Standar Nilai: Manusia vs Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kiral:
Ustaz, kadang kita tuh ngerasa baru punya nilai kalau ada sesuatu yang bisa kita banggain dari diri kita, Ustaz. Nilai bagus, masuk kampus yang bagus, kerjaannya bagus, punya prestasi, atau setidaknya ada sesuatu yang bikin orang lihat dan bilang, “Wah keren.” Apalagi sekarang kita gampang banget buat lihat hidup orang lain. Ada yang seumuran udah sukses, Ustaz, punya karir bagus, punya bisnis, ada yang traveling ke mana-mana, hidupnya kelihatan terus naik. Terus pas lihat hidup diri sendiri, yang ternyata biasa aja. Nggak punya pencapaian besar, nggak terlalu menonjol juga dibanding orang lain. Lama-lama kita jadi ngerasa diri kita juga biasa aja, Ustaz. Sampai muncul pertanyaan, “Kalau aku nggak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, apakah aku tetap berharga, Ustaz?”

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:

بِسْمِ اللَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

Kita sering kali itu mencampuradukkan nilai di mata manusia dan nilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Banyak orang tuh yang ngerendahin manusia, yang nyinyir manusia, ngebully manusia, tapi dia nganggap yang salah Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Ya Allah, kenapa aku dilahirkan demikian?” Loh, kan yang bully Anda manusia. Kenapa marahnya sama Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kenapa merasa nggak beruntungnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kenapa merasa rendahnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Jadi ini yang perlu kita dudukkan. Dalam kacamata dunia, memang orang tuh dinilai dengan ukuran prestasi. Ketampanan, kecantikan, uang, pengaruh, status. Itu clear lah. Kita terdoubt sama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun di sisi Allah, itu beda.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Surah Al-Hujurat: 49:13)

Walaupun nggak kaya, walaupun nggak tampan, walaupun nggak cantik, walaupun nggak punya status. Walaupun, walaupun, walaupun, walaupun, walaupun. Gitu loh. Dalam ayat Allah nggak berarti yang paling terkenal, yang paling kaya, yang paling cantik, yang paling tampan, yang paling sukses bisnisnya, yang paling banyak followers. Enggak. Yang paling bertakwa.

Oleh karena itu, bisa jadi kita biasa saja di mata manusia, bahkan dianggap rendah, tapi sangat istimewa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu sangat mungkin.

Kalau kita tanya secara duniawi, ya, “Apa sih prestasinya Sumayyah?” Hampir nggak ada. “Apa sih prestasinya Yasir?” Secara duniawi, ya. Enggak. Tapi tinggi di sisi Allah. Dan Allah angkat derajatnya di dunia. Karena kalau kita pakai variabel hari ini, nggak ada yang masuk, Rab. Ya Allah. Itu yang perlu kita renungkan.


Hakikat Keberhargaan Hidup

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Kita harus mikir, misalnya gini, “Kalau tidak ada yang melihat hidup saya, berarti hidup saya tidak penting.” Kan nggak gitu cara berpikirnya. “Nggak ada yang memuji saya, berarti hidup saya biasa-biasa aja.” “Kalau nggak ada yang follow saya, berarti hidup saya nggak berharga.” Kan nggak demikian.

Ada banyak amal-amal besar itu nggak dilihat oleh manusia. Doa ibu di setiap sepertiga malam. Nggak dilihat manusia. Bahkan jangankan orang yang bertakwa, ada banyak orang sukses nggak beriman bilang, “Kunci sukses saya itu doa ibu saya.” Padahal dia nggak sholat, nggak segala macam. Atau benar-benar nggak beriman.

Bisa jadi sesuatu nggak pernah viral di dunia, tapi hamba Allah di atas langit itu mengenal Dia. Jadi tidak dikenal oleh manusia bukan berarti tidak dikenal oleh Allah. Allahu Akbar. Tidak dikenal oleh manusia bukan berarti tidak dikenal oleh Allah.

Mungkin nggak semua kita akan menjadi luar biasa menurut ukuran dunia. Iya dong, takdir beda-beda. Dan itu nggak masalah. Kalau saya nggak masalah. Tadi kita bilang Khabbab, Yasir, Sumayyah radhiyallahu ta’ala anhum. Ukuran dunia? Biasa-biasa aja. Bahkan cenderung rendah, tapi sangat mulia di sisi Allah dan di sisi orang-orang beriman.

Jadi kita tuh nggak harus jadi A, jadi B, jadi C. Enggak. Kita harus bertakwa semaksimal mungkin. Lalu serahkan kepada Allah. Dan salah satu cabang ketakwaan, totalitas dalam bekerja, dalam mengerjakan sebuah karya dengan terus beriman dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi begitu kita totalitas, terus nggak jadi apa-apa. No issue. It’s not a big deal.

Jadi boleh nggak kita hidup biasa-biasa aja? Hidup sederhana tuh boleh. Tapi bukan berarti hidup kita itu tanpa tujuan, tanpa totalitas. Bukan berarti kerjanya rebahan doang. Enggak. Kita harus bertakwa. Itu poin. Hasilnya serahkan sama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan takwa bukan hanya di masjid. Takwa itu di masjid, di kantor, di kampus, di bisnis. Totalitas itu bukan hanya di masjid. Ngelibatin hati itu bukan hanya pas sholat. Kerja juga ngelibatin hati. Ngerjain tugas juga ngelibatin hati. Tapi sekali lagi, nggak semua orang setelah lakukan itu semua, otomatis spesial di mata manusia. Enggak.

Dan salah satu hadis yang harus kita renungkan dalam masalah ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian. (HR. Muslim No. 2564)

Makanya sering kali itu kita menghabiskan banyak energi memperbaiki hal yang dilihat manusia, tapi lupa fokus pada sesuatu yang dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak dilihat oleh manusia. Padahal itu penting. Ya Allah. Misalnya hati. Itu dilihat Allah. Manusia nggak lihat. Kita lupa perbaiki.


Akses Kemuliaan Terbuka untuk Semua Hamba

Kiral:
Dan untuk mencapai kemuliaan di sisi Allah, itu Allah kasih chance untuk semua hamba-Nya, ya Ustaz. Sedangkan ikhtiar untuk sukses di dunia belum tentu akan didapati, ya. Sedangkan untuk mendapatkan sukses di akhirat, mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, itu Allah kasih aksesnya ke semua hamba-Nya. Dalam bentuk apapun hamba-Nya, kondisi apapun. Yang untuk sukses di hadapan Allah, ya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Di hadapan Allah, ya Ustaz. Itu jauh lebih berharga daripada yang kita coba kerjakan. Iya.

Kiral:
Nah, salah satu hal pertanyaan penting juga nih. Kalau tidak ada satupun manusia yang mengagumi hidup kita, apakah hidup ini masih layak kita jalani dengan sungguh-sungguh? Nah itu. Nih gimana nih? Gantian dong. Masa pernah ditinggal terus.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Berat, Ustaz. Ya Allah. Satupun nggak ada yang menghargai hidup kita. Nganggap hidup kita tuh nothing. Lah masih layakkah kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh? Itu. Ya Allah. Berat, Ustaz. Semua makhluk, Ustaz. Kucing pun datang cuma untuk dikasih makan, terus nemu diusap, lari. Iya. Iya. Walaupun secara teori tahu jawabannya, tetap berat. Berat, Ustaz.

Nah yang kita harus dudukkan terus kan ke dalam diri kita, ya. Kita tuh nggak diciptakan untuk jadi impressive. Kita diciptakan untuk jadi hamba.

Kiral:
Tapi di satu sisi kita makhluk sosial, Ustaz. Allah bikin. Iya. Manusia lain itu support system jadi hamba.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Itu dia missing piece-nya. Dan jadi hamba bisa dari pintu syukur, bisa dari pintu sabar. Kalau nggak ada yang apresiasi kita, kita tetap bisa jadi hamba dari pintu sabar. Teorinya. Praktiknya susah. Tapi ya pelan-pelan lah. Tapi case-case begini tentu mungkin nggak se-ekstrem, nggak ada satupun yang tidak menyukai, ya Ustaz.


Kisah Uwais Al-Qarni: Superstar di Langit

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Ada di kisah para ulama kita, Ustaz, atau para sahabat. Case-case yang kayak begini, yang di dunia tuh benar-benar nggak dikenal, tapi di langit sudah superstar. Uwais Al-Qarni. Oh iya. Sebaik-baik Tabi’in. Di dunia bukan hanya nggak dikenal, dibully.

Kiral:
Dibully karena apa, Ustaz?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Karena bukan siapa-siapa. Dan pernah sempat sakit kan? Bukan terpandang, bukan segala macam. Tapi Nabi shallallahu alaihi wasallam bilang ke Umar, “Kalau Anda ketemu Uwais dan bisa minta doa, minta doa ampunan kepada Allah.” Wah, Umar. Dan dia sebaik-baiknya tabi’in. Sebaik-baik tabi’in. Semua tabi’in nama-nama besar di bawah beliau. Ya Allah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ

Mungkin saja orang yang berambut kusut masai, berdebu, dan diusir dari pintu-pintu rumah orang, andai ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. (HR. Muslim No. 2622)

Betapa banyak orang-orang yang as’ats aghbar. As’ats itu rambutnya berantakan. Aghbar penuh dengan debu. Artinya nggak keurus. Nggak ada uang. Nggak ada fully. Nggak mampu beli ini, nggak mampu beli itu. Madfu’in bil-abwab. Kalau dia minta izin masuk, kalau bertamu atau datang ke rumah masyarakat, ditolak. “Yuk, kita nggak mau ketemu.” Atau nggak dibukain pintu. “Mohon maaf, Bapak lah yang nggak ada.” Padahal ada. Nggak mau ketemu. Bukan orang siapa-siapa.

لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

andai ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.

Tapi sekali dia bersumpah atau berdoa, diijabah sama Allah. Allahu Akbar. Diremehkan manusia, tapi tinggi. Ya Allah.

Jadi jangan ukur kehidupan teman-teman dari berapa banyaknya manusia yang melihat. Namun pikirkan bahwa Allah selalu melihat kita. Kita tuh take it for granted. Penglihatan Allah. Ya Allah. Saya menganggap penglihatan manusia, pujian manusia segalanya. Padahal pujian manusia nggak ngubah takdir kita. Sama sekali.


Kesimpulan

Kiral:
Ustaz, conclusion.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Hidup kita itu diciptakan oleh Allah. Jadi jangan pernah bilang nggak spesial. Oh. Save the best for the last banget, Ustaz, ya.

Mama buat roti. Mama ini aja buat roti ini. Ih, enak banget. Masya Allah. Lalu ditanya, “Kiral gimana?” “Biasa aja, Ma.” Itu kan nggak adab. Ya dong. Dan nggak faktual juga. You gotta check your tongue, bro. Your palate. Bahkan kalau mamanya buat roti nggak enak, dia nggak boleh bilang gitu. Itu manusia dengan manusia.

Hidup kita itu diciptakan oleh Allah. Jangan bilang biasa-biasa aja. Allahu Akbar. Doa, jalani. Dan cari ridho Allah. Bukan cari ridho manusia. Jangan lihat hidupnya. Dan ketidakmengertian kita dalam membaca banyak hikmah. Lihat siapa yang menciptakan. Jadi jangan lihat hidupnya, tapi lihat siapa yang menciptakan kehidupan kita. Lalu evaluasi diri kita, kenapa kita nggak ngerti banyak hikmah yang Allah tebar di dalam kehidupan tersebut. Karena kita kurang belajar, kurang dekat, kurang zikir, kurang taqarrub. Masya Allah.

Kiral:
Masya Allah, Ustaz. Ustaz, thank you so much for the wisdom and insights and knowledge and new mindset, perspective yang baru.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Semoga bermanfaat untuk kalian berdua, insya Allah. Dan semoga bermanfaat untuk teman-teman yang nonton.

Kiral:
Ketemu lagi di Unspoken berikutnya, insya Allah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

You may also like