Share

Aku Pengen Kaya dan Sukses… Boleh Nggak Sih?

aku pengen kaya dan sukses boleh gak sih

Dikotomi Ambisi Dunia dan Akhirat

Penanya:
Ambisi dunia yang orang pahami itu tepat tidak, Ustaz? Karena sering kali orang memahaminya seperti itu, Ustaz. Kayak ambisi dunia dan ambisi akhirat itu seakan-akan ada partisinya, seakan-akan itu adalah hal yang berbeda.

Ustaz:
Itu justru… tergantung dalam hal apa. Kalau maksudnya adalah tujuan dan tujuan akhir, ya beda. Tapi kalau yang satu adalah tujuan dan yang satu adalah jembatan—yang satu tujuan, yang satu sarana—ya saling menguatkan satu dengan yang lain. Jadi, kita harus lihat konteksnya itu apa.

Penanya:
Jadi contohnya, kalau misalnya kita niat mencari nafkah untuk keluarga untuk ibadah, sebagai tanggung jawab kita sebagai suami, atau misalnya anak yang membantu orang tuanya, itu artinya selaras ya, Ustaz?

Menakar Ambisi Besar Anak Muda: Titik atau Koma?

Penanya:
Kalau anak muda itu banyak yang mimpinya lebih jauh lagi, Ustaz. Mau jadi elit, atau ingin mencapai sesuatu yang sangat besar di usia muda. Kan kita sering mendengar para motivator di YouTube, sehingga dorongan kita terhadap sesuatu yang besar banget itu menjadi dominan. Nah, itu bagaimana, Ustaz? Apakah itu…

Ustaz:
Ya, lainnya. Pokoknya ini masalah tanda baca saja. Itu tanda bacanya titik apa koma.

Misalnya, “Kamu ingin jadi elit.” Oke, saya tanya, “Untuk apa?”

Kalau itu titik, ya sudah selesai, Anda ahli dunia.

Kalau itu masih koma, “Lalu kamu bisa jelaskan.” Maka kita kejar lagi, “Terus habis itu untuk apa lagi?”

Kan kita tinggal lihat kalimat terakhirnya apa ini, gitu loh. Kalau ditanya, “Apa tujuanmu?” Ya jawab saja, “Tujuanku buat akhirat.” Oke, buktinya mana? Kalau secara teori kan seperti itu saja, gitu loh.

Bukan Tentang ‘Apa’, tapi Tentang ‘Mengapa’

Ustaz:
Jadi, ini bukan tentang apa, ini tentang mengapa. Kamu mendapatkan itu untuk apa, gitu loh. Jadi kita tidak usah meributkan apa-nya, gitu loh. Apa-nya dalam arti pencapaiannya apa, gitu loh. Nanti yang satu jadi Perdana Menteri-lah, di satu sisi nanti jadi konglomerat-lah, segala macam. Itu semua adalah apa, gitu loh. Kita tidak bicara itu.

Pembahasan yang kalian angkat itu adalah pembahasan mengapa, bukan apa. Yang jadi masalah, kita mengangkat pembahasan tentang mengapa, tapi yang didiskusikan semua tentang apa, apa, apa, apa, apa, gitu. Ya kita bicara di konteks yang berbeda.

You may also like