Share

Lagi Susah Gini… Gimana Mau Fokus Akhirat?

Host (Kiral):
Ustadz, ada pertanyaan rasanya riil banget, Ustadz. Ada yang sebenarnya pengin fokus ke akhirat, Ustadz. Secara teori dia tahu kalau ngejar akhirat, dunia bakal ngikut. Tapi jujur, hidupnya juga lagi susah, Ustadz. Kerja capek, penghasilan juga mepet. Bangun tahajud aja kadang udah nggak kuat lagi. Mau sedekah juga mikir dua kali, Ustadz. Bukannya pelit, tapi emang lagi sempit. Dan akhirnya kepikiran, kalau hidup gue aja masih berantakan gini, gimana gue mau fokus sama akhirat? Apa salah ya, Ustadz, kalau kita mikirin dunia dulu?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ

Kenapa mikir? Takut ditanya, Ustadz. Itulah kenapa banyak orang bilang, “Teori mah mudah, tapi praktiknya susah.” Apalagi tentang dasar-dasar keimanan, sebenarnya kan secara teori itu bisa menjangkau semua elemennya. Artinya, Allah sudah mempermudah itu. Tapi yang jadi PR kan ngamalinnya.

Host (Kiral):
Praktiknya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya, praktiknya. Itu yang memang susahnya luar biasa.

Dunia Adalah Tempat Ujian yang Tidak Akan Pernah Selesai

Jangan nunggu masalah selesai dulu baru menuju akhirat. Karena inti dari dunia itu, darul mihan, kata para ulama, inti dari dunia itu adalah tempatnya ujian. Kita berpindah dari satu ujian ke ujian kedua. Ujian kedua selesai, ujian ketiga. Ujian ketiga selesai, ujian keempat.

Ya sama lah, Kiral. Ketika pas nomor SD, yang ada di benak Kiral tahu nggak sih? Mungkin alhamdulillah SD selesai, gitu. Masuk SMP.

Host (Kiral):
Coret-coret deh SD. Nggak, belum. Belum, belum. Berarti akan, kalau belum.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Ternyata SMP ketemu ujian lagi.

Host (Kiral):
Nggak selesai.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Nggak selesai. Habis itu, terus kerasain nggak sih waktu kelas 3 SMP itu kita dikasih iming-iming bahwa SMA itu masa terindah dalam hidup.

Host (Kiral):
Sangat, sangat. Or ini mah kutu buku, jadi nggak kerja sisi-sisi. Jadi belajar terus dari SD.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Tapi ternyata SMA ujiannya lebih berat lagi.

Host (Kiral):
Lebih berat lagi. COVID lagi makin berat. Ini sesi curhat, Ustadz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Terus kelas 3 SMA melihat ke kampus. Ada orang berpikir, “Ada ya, nggak semua.” Kayaknya kalau kampus lebih rileks, lebih bebas, lebih santai. Tapi ternyata kompleksitas dan ujian di dunia kampus juga jauh lebih berat. Jadi emang nggak selesai. Itu poinnya, dunia itu nggak selesai-selesai.

Host (Kiral):
Nggak selesai-selesai.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Ada orang berpikir, “Kalau udah lulus kuliah, gue bisa bebas. Gue nggak terikat.” Ternyata dunia kerja sering kali disimpulkan banyak orang lebih kejam lagi. Dan dunia itu nggak selesai-selesai. Sampai kapan? Sampai takbir 4 kali.

Jadi kalau gue akan fokus akhirat sampai masa ujian ini selesai, ya dia fokus akhirat setelah dikafanin. Ya benar-benar masuk alam akhirat, gitu loh. Bukan fokus akhirat masuk ke alam akhirat. Jadi harus dimulai as soon as possible.

Kalau kita merasa susah, yang lain pun ngerasain yang sama. Nggak lain. Gitu loh. Kalau yang lain ditolong oleh Allah, kenapa? Apa alasan kita nggak ditolong oleh Allah? Selama kita jujur. Jadi harapan itu selalu ada.

Kekhawatiran Kita Sering Kali Tidak Terjadi

Dan sering ngalamin nggak sih, di banyak ujian, “Kayaknya gue nggak sanggup nih, tapi lewat.” “Kayaknya berat banget sih, tapi lewat.” “Tamat hidup gue.” Nggak tamat-tamat tuh.

Host (Kiral):
Masya Allah. Bersambung terus.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Masya Allah. Karena sering banget kita waktu punya masalah di SMP, SMA, atau di SD lah. Pernah nggak sih dulu punya masalah di SD sampai kita menghindari masalah itu? Jadi kita menghindar, gitu loh.

Host (Kiral):
Sering, Ustadz. Ada, Ustadz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Sering ya?

Host (Kiral):
Ada.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Dan kenapa kita menghindar? Karena kita merasa nggak sanggup ngelewatin hal tersebut.

Host (Kiral):
Jerawat aja masalah, Ustadz. Jerawat di SMP-SMA. Dan juga posisi jerawat di mana itu pengaruh banget. Like, seriously, kalau misalnya di…

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Di mata sakit?

Host (Kiral):
Bukan, bukan. Satu-satu. Bukan itu poinnya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Oh, bukan itu.

Host (Kiral):
Itu bintik hitam kali. Kalau di hidung nih, di tengah-tengah, that’s a problem, bro. Masalah besar.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Pada saat itu.

Host (Kiral):
Pas saat itu.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Tapi ternyata kita bisa ngelewatin dan nggak sesuai dengan kekhawatiran kita juga. Makanya ada menarik kata para ulama, kalau kita renungin kehidupan kita, sering kali yang terjadi itu tidak sesuai dengan apa yang kita khawatirkan.

Host (Kiral):
Ya Allah, benar.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Gitu loh. Jadi mayoritas yang terjadi itu nggak sesuai dengan yang kita khawatirkan.

Host (Kiral):
Tapi udah buruk sangka sama Allah, kalau gitu.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya. Banyaknya. Nggak semua ya. Nggak semua. Tapi sebagian orang itu udah. Sering banget kita waktu, “Tamat hidup gue deh. Tamat riwayat gue.” Ternyata nggak.

Host (Kiral):
Dibahas sama para ulama, Ustadz?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya, dibahas. Dan misalnya, Kiral pernah menghindar dari sebuah masalah. Begitu dihadapi. Dan kadang-kadang kita suka, bukan kita sengaja hadapin, tapi kepergok. Dan pas kepergok, nggak ada hal yang menyeramkan juga, gitu loh.

Host (Kiral):
Iya juga ya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Saya pernah tuh, pokoknya kita janjian, saya bawakan sesuatu buat teman saya waktu itu. Waktu SD. Eh, pas hari H ketinggalan. Waktu itu darurat wisata. Ya Allah, ketinggalannya ingat pas sampai di sekolah. Langsung pikiran macam-macam. Dia marah segala macam.

Maka langkah yang dilakukan adalah menghindari dia. Mulai dari masuk busnya, pilih bus yang beda dengan dia. Sampai di sana, akhirnya nggak ngenikmatin darurat wisata tersebut karena sibuk menghindar. Di sana ada dia, kita ke kiri. Dia ada di kiri, kita ke kanan. Pokoknya sepanjang hari itu demikian.

Host (Kiral):
Terus dia anaknya aktif lagi, Ustadz ya. Lari semua. Orang-orang makin susah, Ustadz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Jadi bukannya menikmati itu, kita waspada terus. Qadarullah, ketemu dia. Di akhir. Jadi udah berusaha dari awal sampai awal berhasil, sampai tengah berhasil. Begitu di akhir, ketemu. Pas ketemu, benar ditanyain, “Eh, ini gue mana?” Terus dengan feeling guilty, udah nggak berani natap nih. Ketinggalan. Responnya apa? “Ya udah, nggak apa-apa.” Ya udah, nggak apa-apa. Ayo kita main. Akhirnya, “Kenapa nggak ketemu dari awal?”

Host (Kiral):
“Kenapa nggak ketemu dari awal?”

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Jadi ngehindarin dari awal sampai akhir. Begitu ketemu, “Ya udah, nggak apa-apa.” Ayo kita main lagi. Wow. Itu tuh pelajaran berharga banget. Nah, jadi banyak hal yang kita khawatirkan, kenyataannya nggak seperti itu. Dan itu sering kali. Kita nggak usah ambil pengalaman orang lain. Kita lihat pengalaman kita sendiri.

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Surah Az-Zariyat: 21)

Kata Allah, “Dalam diri kalian, kenapa kalian nggak melihat tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala?”

Jadi, lakukan perubahan saat ini juga. Dan coba. Dan ketika susah, semua ngalamin yang sama kok. Kayak kita aja. Tapi kita mau menghindar atau kita mau belajar. Wow. Dan ngadepin, lalu menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Insya Allah.

Host (Kiral):
Kelas berapa SD, Ustadz, waktu itu?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Lupa tuh kelas berapa.

Host (Kiral):
SD masih ingat, Ustadz. Itu berkesan banget soalnya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya. Trauma itu bukan berkesan.

Host (Kiral):
Trauma?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Nggak, nggak, nggak. Itu pelajaran mahal lah.

Host (Kiral):
Masya Allah ya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya. Intinya kalau kita salah, langsung selesaikan, minta maaf, dan itu. Itu kan kita salah tuh ngehindar.

Host (Kiral):
Benar, benar, benar.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Udah, kalau salah, temuin, minta maaf, selesaikan secepat mungkin.

Host (Kiral):
Ustadz, thank you so much for the knowledge and wisdom. Walaupun singkat, tapi bermanfaat banget, Ustadz. Mind-blowing. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang nonton. Insya Allah ketemu lagi di episode berikutnya of Unspoken.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:

وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

You may also like