Share

Tahu Mana yang Benar… Kok Aku Belum Bergerak?

Tahu Mana yang benar kok aku belum bergerak

Pengantar: Mengapa Kita Sulit Bergerak Padahal Sudah Tahu?

Host: Kenapa, Ustadz, kalau kita sudah tahu mana yang benar, kenapa kita masih tidak mengerjakan? Kenapa kita masih tidak mau meninggalkan? Sering kali yang benar kalah menarik dengan apa yang kita inginkan. Kita tahu hubungan ini merusak, haram, tapi kehilangan orang itu terasa lebih menakutkan.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Host: Selamat datang di Unspoken, bersama guru tercinta kita Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, hafizhahullah, dan BK. Ustadz, terima kasih banyak sudah hadir di sini.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Sama-sama.

Host: Bro, apa yang kamu punya, Bro?

Host (BK): Ustadz, ada yang menarik nih, Ustadz. Ada yang bertanya, Ustadz, kalau kita kadang yang membuat malu itu bukan karena kita tidak tahu mana yang benar. Kita tahu kita harus shalat, tahu ada hal-hal yang harus ditinggalkan, tahu apa yang seharusnya kita perbaiki, tapi tidak tahu kenapa kita tetap tidak bergerak, Ustadz. Dan karena kita tahu, rasanya malah semakin berat, Ustadz. Kayak tidak bisa lagi bilang “aku tidak mengerti” atau “belum tahu”, begitu. Karena sebenarnya kita tahu. Nah, kenapa, Ustadz, kalau kita sudah tahu mana yang benar, kenapa kita masih tidak mengerjakan? Kenapa kita masih tidak mau meninggalkan? Kelumpuhan (paralisis), Ustadz. Tahu aku yang benar yang mana, tapi tidak bergerak-gerak.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:

بِسْمِ اللَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَبَعْدُ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Dengan menyebut nama Allah. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, amma ba’du. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Kalau kita lagi di posisi itu, jujur tidak terasa, Ustadz. Maksudnya, ya sudah, tidak mau saja melakukan. Hal-hal lain bagaimana, Ri?

Host (Ri): Mengulur-ulur waktu (stalling), menunda-nunda (procrastination), mungkin membayangkan mengerjakannya itu butuh usaha ekstra, atau terlalu banyak berpikir (overthinking) kayaknya bakal berat, begitu. Atau memang belum memutuskan saja.

Host (BK): Nah itu, Ustadz. Benar. Sama.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Loh, bagaimana bisa sama?

Host (BK): Kita lakukan saja. Iya, seperti belum memutuskan saja, Man.

Jarak Antara Tahu dan Melakukan

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Ini salah satu fenomena yang menunjukkan bahwa masalah manusia tidak selesai hanya dengan bertambahnya informasi, data, atau ilmu sebagai sebuah pengetahuan. Tidak cukup. Dan ini menunjukkan ada jarak antara tahu dan melakukan. Sebagian orang itu berpikir kalau masalah kita hanya ilmu pengetahuan. Kalau kita punya ilmu pengetahuan, otomatis kita akan berhasil, kita akan mengerjakan, kita akan sukses, dan seterusnya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Ilmu memang wajib (mandatory), wajib begitu loh. Tapi ilmu butuh hal lain, sehingga nanti bertemu dengan tindakan (action) itu sendiri.

Ini bukan fenomena baru. Ini dari dulu. Bahkan ketika Allah berfirman menceritakan tentang kondisi Firaun dan pengikutnya, apa kata Allah dalam surat An-Naml ayat 14:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (14)

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (Surah An-Naml: 27:14)

Mereka mengingkari, padahal hati mereka tahu. Bahkan bukan hanya tahu, percaya. Yakin. Itu Allah berfirman tentang Firaun dan pengikutnya.

وَجَحَدُوا بِهَا

Dan mereka mengingkarinya

Mereka mengingkari. Padahal hati mereka itu tahu. Dan bahkan bukan sekadar tahu.

وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ

Padahal hati mereka meyakininya

Sudah sampai level percaya. Tahu belum tentu percaya, loh. Belum tentu percaya. Tapi tetap saja diingkari. Kenapa?

ظُلْمًا وَعُلُوًّا

Karena kezaliman dan kesombongan

Karena mereka itu zalim dan mereka sombong. Waduh.

Iblis itu kan bermaksiat bukan karena tidak tahu.

أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ

Ia enggan dan menyombongkan diri (Surah Al-Baqarah: 2:34)

Iblis enggan, Iblis sombong. Bukan Iblis tidak tahu. Makanya Iblis tidak bilang, “Ya Allah, saya tidak tahu, loh. Saya tidak mengerti kenapa saya diusir.” Nah, Iblis tidak bilang begitu.

Jadi ini sebuah fenomena. Bukan berarti teman-teman kita yang lagi berjuang (struggle) di sini sombong, ya. Tidak. Ada banyak kemungkinan, dan kita tetap optimis lah, dan kita berbaik sangka (husnudzon). Karena kalau teman-teman kita sombong, tidak mungkin bertanya kayak begitu, begitu. Kalau orang sombong kan cari pembenaran (justifikasi). “Everything is okay,” kata dia. Emang kenapa dengan saya, saya baik-baik saja. Tidak mungkin bertanya atau minta tolong Kiral. “Kiral, tolong angkat masalah ini dong di Unspoken,” begitu kan. Orang yang mengangkat masalah di Unspoken itu orang yang ingin cari solusi, ingin cari kebenaran, ingin cari perbaikan. Dan itu adalah kebalikan (antitesa) dari sombong.

Tapi saya ingin jelaskan bahwa ini fenomena dari dulu. Orang yang sudah tahu tetap saja jatuh. Tetap saja tidak mengerjakan. Karena beberapa faktor. Jadi mengetahui secara pasti sampai titik percaya itu tidak otomatis melahirkan ketundukan dan kepatuhan. Makanya inti dari ilmu agama itu kan bukan hanya tahu, tapi Anda nurut, patuh. Dengar, terus patuh (sami’na wa atha’na).

Faktor-Faktor yang Membuat Kita Enggan Bergerak

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Jadi kembali lagi ya ke pertanyaan kenapa kita tidak bergerak padahal kita sudah tahu. Ada banyak kemungkinan.

1. Kebenaran Kalah Menarik dari Keinginan

Di antaranya sering kali yang benar kalah menarik dengan apa yang kita inginkan. Kita tahu nih tugas kita kerja, tapi berselancar di media sosial (scrolling) lebih menarik. Pilih scrolling. Lebih menarik. Iya kan? Kita tahu hubungan ini merusak, haram, tapi kehilangan orang itu terasa lebih menakutkan.

Host (BK): Lagu “If loving you is wrong” itu, Ustadz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Nah, itu kan.

Host (BK): “I don’t want to be right” (Aku tidak ingin menjadi benar). Bagaimana, Roh?

Host (Roh): No comment (Tidak ada komentar). No comment.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Jadi dia tahu hubungan ini tidak boleh dilanjutkan. Tapi di sisi lain, dia tidak mau kehilangan. Atau kita tahu ini dosa, tapi sering kali dosa itu menawarkan imbalan instan (immediate reward). Iya kan? Akhirnya ya sudah, pilih dosa. Jadi sering kali konfliknya itu bukan benar versus salah, tapi konflik kita adalah benar versus apa yang kita inginkan. Nah, ya. Benar versus apa yang kita inginkan. Benar, tidak? Tapi sering kali memilihnya yang kita inginkan, Ustadz. Itu kenyataan, Ustadz. Diulang lagi untuk penekanan. Jadi sering kali kebenaran itu berbeda dengan apa yang kita inginkan. Oke. Yang kita mau. Kebenaran itu bertabrakan dengan hawa nafsu kita. Nah, manusia itu sering kali lemah dengan hawa nafsu. Akhirnya ikut.

2. Menunggu Motivasi Sebelum Melangkah

Terus yang kedua, sering kali kita menunggu sesuatu yang memotivasi kita dulu sebelum bergerak, sebelum melangkah. Padahal sering kali dalam hidup itu gerak dulu, baru sesuatu yang memotivasi itu menyusul. Wah. Kayak misalnya, kan sering orang bilang, “Ayo Bro, kita shalat nanti kalau hati saya sudah siap.” Uh, kan begitu ya. Iya. “Sis, pakai hijab yuk.” Mau menghijabi hati dulu, kayak begitu. Dihijabi.

Jadi sering kali kita itu menunggu, begitu loh. Menunggu. Kan ingat teori ketok pintu. Ketok pintu. Iya. Itu kan. Ingin merasakan kenikmatan, baru saya shalat. Saya tidak shalat, kenapa? Tetap hambar, Bro. Padahal harusnya tetap ketuk. Walaupun hambar. Shalat dulu walaupun berat. Bangun subuh dulu walaupun tersiksa dengan nikmat. Datang ke kajian walaupun malas. Jadi kayak dipaksakan dahulu, Ustadz. Itu tadi, ketok pintu.

3. Perubahan Terasa Terlalu Besar dan Berat

Di antara kemungkinan lain, sering kali itu yang ada di kepala banyak orang, perubahan itu terasa terlalu besar, terlalu berat. Benar. Seseorang itu tahu harus berubah. Berarti seluruh hidup saya harus berubah mulai malam hari ini. Itu loh. Artinya merasa kewalahan (overwhelmed). Dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa. Benar. Iya kan? Karena berpikir sudah muluk-muluk. Sudah putar haluan 180 derajat. Padahal Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus (konsisten) meskipun sedikit. (HR. Bukhari No. 6464 dan Muslim No. 782)

Kerjakan yang wajib-wajib, baru pelan-pelan mengerjakan yang sunnah-sunnah. Cuma kalau semuanya langsung mau diubah, Anda tidak sanggup.

Host (BK): Jadi kesannya tidak totalitas (all out), Ustadz. Tidak 100%.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Tidak 100%. Tidak harus langsung besar atau tidak sama sekali (go big or go home). 100% kan dimulai dari 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, terus 20%, 21%, 22%, 23%, 41%, 42%, 43%, 44%, nanti sampai. Tidak bisa langsung berubah 100%. Manusia itu tidak kuat. Al-Qur’an itu turun berangsur-angsur. Apa susahnya Allah menurunkan 30 juz di Gua Hira? Kan gampang. Makanya kan orang kafir pernah menyindir. Allah berfirman dalam surat Al-Furqan ayat 32:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا (32)

Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus sekali turun saja?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan jelas). (Surah Al-Furqan: 25:32)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا

Dan berkatalah orang-orang kafir

Berkata orang-orang kafir, menyindir nih:

لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً

Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus sekali turun saja?

“Andai saja Al-Qur’an itu turun ke Muhammad sekaligus satu waktu, 30 juz atau banyak. Kenapa sih ribet banget? Nanti ada satu surat, nanti ada ini. Kenapa tidak sekaligus saja?” Allah jawab sindiran mereka:

كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ

Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu dengannya

“Beginilah cara Kami mengokohkan hatimu, wahai Muhammad.”

وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur)

“Dan Kami bacakan pelan-pelan.”

Jelas kita harus masuk ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً (208)

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah). (Surah Al-Baqarah: 2:208)

Masuklah ke dalam Islam secara kaffah, totalitas. Tapi manusia itu butuh proses. Di zaman yang serba instan ini, proses itu pada dilewati (di-bypass) semua, Ustadz. Iya, itu. Semakin susah. Nah, kalau itu dialami generasi terbaik, ya apalagi kita yang mau berubah sekarang.

4. Pengaruh Dosa yang Melemahkan Tekad

Terus yang berikutnya, pengaruh dosa juga. Pengaruh dosa. Karena salah satu efek samping (side effect) dari dosa itu melemahkan keinginan (iradah), kemauan, tekad. Jadi hati-hati. Jadi perbanyak istigfar, perbanyak tobat, dan seterusnya. Lalu juga ada kesombongan, sebagian kita bahas yang tadi. Firaun dengan bala tentaranya. Abu Lahab, Abu Jahal itu sombong.

5. Enggan Membayar Harga dari Hidayah

Lalu kenapa kita tidak bergerak? Karena segala sesuatu ada harganya (everything has a cost). Dan kita sering kali tidak mau bayar. Kita takut. Semuanya ingin gratisan saja.

Host (BK): Bahkan kebaikan, Ustadz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Bahkan kebaikan. Bahkan kebaikan. Tidak mau capek dan segala macam untuk menjadi saleh. Tidak mau ini segala macam untuk menjadi bertakwa. Kita sering kali tidak rela untuk membayar harga dari hidayah. Harga dari hidayah. Harga dari ketakwaan dan kesalehan.

Host (BK): Harga dari surga, Ustadz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Harga dari surga. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ

Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga. (HR. Tirmidzi No. 2450, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ

Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal

Ketahuilah yang Allah tawarkan itu mahal.

أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ

Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga

Ketahuilah yang Allah tawarkan itu surga. Mahal. Itu mahal, tidak murah. Sering kali tobat itu ada harga yang harus dibayar. Prinsip itu ada harga yang harus dibayar. Shalat tepat waktu itu ada harga yang harus dibayar. Jujur itu ada harga yang harus dibayar. Kita maunya gratisan atau dapat beasiswa. Beasiswa, jadi tidak bayar.

Oh, berarti susah dong? Kata para ulama, sebagian ulama ushul fiqih, tidak. Karena kalau Anda bayar sekian, untung Anda lebih besar lagi. Kan minimum 10 kali lipat. Minimum. Iya. Sampai 700 kali lipat, bahkan lebih dari 700 kali lipat. Tapi Anda mau bayar dulu saja. Ini benar-benar tidak mau bayar. Jadi kita ingin dapat 10 kali lipat, tapi tidak mau bayar. Itu masalahnya. Ya Allah. Anda bayar, Anda pasti untung.

عَشْرُ أَمْثَالِهَا

Sepuluh kali lipatnya

Sepuluh kali lipat minimum.

إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

Sampai tujuh ratus kali lipat

Sampai 700 kali lipat. Allahu Akbar.

Nah, itu manusia itu kadang-kadang kelewatannya begitu. Kita mengejar kepuasan instan (instant gratification) dan tidak mau bermain jangka panjang (long game). Misalnya begini deh, ada mobil pasarannya 200 juta. Ori tawarkan ke Kiral 400 juta. Kira-kira Kiral mau beli tidak?

Host (BK): Tidak.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Tidak. Ih, kok begitu sih, Roh? Tapi tiba-tiba Anda bilang ke Kiral, “Ral, ambil saja. Nanti aku ganti 10 kali lipat.” Uff, begitu. Kiral akan bayar kan? Walaupun lebih mahal dua kali lipat. 200 juta ditambah 400 juta. Tidak apa-apa, dua kali lipat. Nanti aku bayar kamu 10 kali lipat, minimum. Nah, ketika Kiral bilang, “Tidak mau. Aku mau ambil mobilnya Ori gratisan.” Kan kelewatan dong. Iya, tidak bisa begitu, Ki. Kan aku sudah menabung 10 kali lipat. Ya kamu keluarkan uang lah. Itu dong. Kita ini tidak mau, kecuali gratis. Ih, itu logika-logika dunia dipakai ke akhirat. Ini mau dipakai, Ustadz? Di dunia dipakai itu langsung. Janganlah 10 kali lipat, saya tawarkan tiga kali lipat, Kiral akan ambil kalau duniawi. Ini Allah tawarkan minimum 10 kali lipat. Allah tidak melihat kita berani apa tidak, loyal tidak, percaya apa tidak, dan mau berkorban apa tidak.

Host (BK): Argumennya, “I can’t see it though. I can’t see it. I can’t enjoy it now.” (Tapi aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak bisa menikmatinya sekarang). Iya. Imbalan instan. Imbalan instan.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Padahal rugi sebenarnya. Rugi sebenarnya. Allahu Akbar.

6. Kurangnya Doa Memohon Pertolongan Allah

Yang terakhir, kita kurang doa sama Allah. Iya. Allahu Akbar. Makanya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (Surah Al-Fatihah: 1:5)

Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan. Ibadah itu butuh meminta pertolongan. Kita itu sering kali lupa. Kita berdoa agar dapat ilmu yang bermanfaat (ilmun nafi’), kita berdoa agar bisa mengamalkan ilmu, kita berdoa agar bisa mengamalkan apa yang kita sudah tahu. Sering kali tidak masuk ke daftar doa kita. Kadang-kadang kita merasa dengan kekuatan tekad (willpower) saja, insya Allah bisa nih. Tidak, insya Allah juga sih, kekuatan tekad bisa. Tidak bisa-bisa. Tidak bisa. Butuh pertolongan Allah. Kita sering kali mengabaikannya (take it for granted) tentang itu.

Host (BK): Kita memang sering mengabaikannya.

Pentingnya Konsistensi (Istiqomah)

Host (BK): Mengenai konsistensi (persistence) itu, Ustadz. Iya. Saya coba berpikir. Jika saya bisa memiliki kekuatan super (superpower), penglihatan sinar-X (X-ray visions), segalanya. Jika saya bisa memiliki kekuatan super, saya akan meminta konsistensi. Kadang kayaknya memang itu sih kuncinya. Karena itu sulit dilakukan.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Ya, kenyataannya di dunia orang ada yang punya itu kan. Allah memberikan kekuatan supernya melalui doa atau ikhtiar dia.

Host (BK): Saya akan meminta konsistensi.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Makanya ulama mengatakan istiqomah lebih baik daripada 1000 karomah. Uff.

الِاسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ

Istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah. (Perkataan para ulama, di antaranya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

Istiqomah itu lebih baik daripada 1000 dapat karomah. Ya Allah. Karomah itu artinya sesuatu yang di atas kemampuan manusia, Allah kasih tanpa ada persiapan segala macam untuk menunjukkan dia wali. Ya Allah, begitu loh. Itu karomah. Sesuatu yang secara hitung-hitungan manusia tidak mungkin nih, tapi bisa, untuk menunjukkan dia wali. Kalau Nabi itu kan namanya mukjizat. Iya. Tapi kalau non-Nabi atau wali, wali kan umat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kan, itu namanya karomah. 1000 karomah. Istiqomah. Allahu Akbar. Itu lebih baik daripada Anda dapat 1000 karomah. Masya Allah. Masya Allah.

Karena kalau Anda dapat karomah hari ini, itu menunjukkan Anda wali hari ini. Iya. Tapi belum tentu besok. Belum tentu. Belum tentu bulan depan. Belum tentu pekan depan. Tapi kalau Anda istiqomah, sudah, jelas. Masya Allah. Masya Allah.

Kiat-Kiat untuk Mulai Melangkah

Host (BK): Ustadz, kiatnya apa nih, Ustadz, biar istiqomah? Ustadz, kayaknya ujung-ujungnya ke situ. Istiqomah kayaknya, eh, halaman berikutnya ya. Ini kan bagaimana biar bergerak dulu lah. Oke. Langkah pertama dulu lah. Langkah pertama. Oke.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Ya, langkah pertama itu tadi, banyak doa. Lalu hilangkan kesombongan, jangan zalim. Dan kayak Firaun tadi, dia tidak, dia mengingkari padahal dia sudah percaya. Jangan, jangan sombong lah. Sombong penyakit. Sombong penyakit.

Terus yang ketiga, harus berani bayar. Dan bayarnya kan:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا (286)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Surah Al-Baqarah: 2:286)

Mahal. Bayarnya itu mahal. Tapi Allah tidak membebankan kalian kecuali sesuai dengan apa yang kalian miliki, sanggupi. Jadi tidak mungkin harganya (cost-nya) itu di atas kemampuan kita. Uff. Jadi sudah, bayar saja. Uff.

Terus juga pelan-pelan, langkah demi langkah (step by step). Kerjakan yang wajib dulu. Dan jangan menunggu termotivasi. Saya kutip-kutip dari banyak Ustadz yang sensitif. Kamu tahu, seperti, “Oh yes, I need a couple more, just to get me started, bro.” (Oh ya, aku butuh beberapa lagi, hanya untuk membuatku mulai, Bro). Aku rasa beberapa lagi. Simpan, simpan, simpan, simpan, simpan. Beberapa lagi. Untuk melangkah sekarang. Jangan menunggu besok. Jangan menunggu besok.

Ya, makanya ada, ada teman cerita rumah makan membuat plangnya. Iya. “Besok makan gratis.” Besok. Sekarang bayar. Iya. Dan setiap orang ke sana tidak pernah ada yang bisa makan gratis. Kan dia baca hari Senin, dia datang hari Selasa. Iya. Allah. Masuk, suruh bayar dia. Tidak bohong juga ya. Loh, katanya ini. Baca dong plangnya. “Besok makan gratis.” Perlu dicoba begitu. Ada yang lihat hari Rabu, datangnya hari Kamis. Begitu hari Kamis, kasih tagihan (bill). Loh kok bayar? Baca dong plangnya. “Besok makan gratis.” Ya Allah, benar-benar manusia itu. Manusia mau beli kuasa.

Kesimpulan dan Penutup

Host (BK): Ustadz, kalau kesimpulannya apa nih, Ustadz? Hikmah (wisdom) dari ini semua, Ustadz?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Doa, tawakal, langkah sekarang. Doa, tawakal. Doa, tawakal, langkah sekarang. Iya. Doa, tawakal, kutip-kutip dulu. Motivasi, motivasi, motivasi dulu, tidak jalan-jalan. Kita waktu bayi kan tidak menunggu dimotivasi untuk mulai belajar berjalan. Sudah. Mau orang motivasi kek, mau tidak kek, mau diketawain. Wow. Kita jalan saja. Dan akhirnya mulai kita bisa jalan. Masya Allah.

Host (BK): Ustadz, terima kasih banyak atas ilmu, hikmah, wawasan, dan waktunya. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang menonton. Insya Allah bermanfaat untuk kami. Amin. Ketemu lagi insya Allah di Unspoken berikutnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

You may also like