Share

Apa Allah Bosan Dengar Aku Minta Maaf?

Apa Allah bosan dengar aku minta maaf

Pendahuluan: Rasa Malu dan Takut Ketika Terus Mengulang Dosa

Host:
Gimana, Ustaz, kalau kita sudah terlalu sering datang ke Allah buat minta maaf? Waktu kita salah, kita menyesal, kita doa lagi, minta ampun lagi. Tapi karena ini terus berulang, lama-lama jadi malu buat datang, Ustaz. Apa Allah bosan dengar aku minta maaf?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Yang membuat kita berhenti minta maaf itu bukan karena Allah sudah tidak mau mengampuni lagi, tapi bisa jadi karena kita sudah bosan dengan diri kita sendiri. Atau kita mengukur sifat sabar yang Allah punya dengan kesabaran manusia.

Host:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Host:
Selamat datang di episode lain dari “Unspoken,” bersama guru tercinta kita, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah, dan B2K, Ustadz. Terima kasih banyak sudah hadir di sini.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Sama-sama.

Host:
Ustaz, gimana, Ustaz, kalau kita sudah terlalu sering datang ke Allah buat minta maaf? Waktu kita salah, waktu kita menyesal, kita doa lagi, minta ampun lagi, Ustaz. Tapi karena ini terus berulang, lama-lama jadi malu buat datang, Ustaz. Kayak ada pikiran, “Ya Allah, aku jatuh ke kesalahan yang sama lagi.” Terus kita jadi takut, Ustaz. Apa Allah bosan dengar aku minta maaf? Kalau sudah sampai punya pikiran kayak gitu, baiknya gimana ya, Ustaz?

Hakikat Sifat Allah yang Berbeda dengan Makhluk

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Kita bismillah, alhamdulillah, wassalatu wassalamu ala rasulullah.

بِسْمِ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ

Banyak orang itu tidak berpikir bahwa Allah tidak ada, tapi berpikir bahwa, “Aku tahu Allah ada, tapi setelah semua yang aku lakukan, apakah Allah masih mau mendengarku?” Begitu ya.

Host:
Iya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Jadi masalahnya itu bukan tidak mau bertobat, tapi masalahnya adalah ketika seseorang mulai memproyeksikan sifat manusia kepada Allah. Ini akar masalahnya.

Host:
Betul.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Sebagian tuh menggunakan analogi, “Kalau saya menyakiti seseorang berkali-kali, bahkan sampai puluhan kali, bahkan sampai ratusan kali, mungkin dia sudah muak dengan saya. Mungkin dia sudah muak dengan permintaan maaf saya. Dia sudah bosan dengan saya.” Berarti Allah juga demikian. Atau saya khawatir Allah juga demikian. Kan seperti itu ya.

Host:
Iya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Padahal Allah tidak seperti makhluk. Allah itu berbeda dengan siapa pun.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Surah Ash-Shura: 42:11)

Tadabbur Hadits Qudsi: Ampunan Allah Tanpa Batas

Kita tuh perlu tahu bahwa ada hadits qudsi, riwayat Imam Tirmidzi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam,” ini hadits harus kita tadabburi. “Wahai anak Adam, wahai manusia…”

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي

“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau atas apa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli.” (HR. At-Tirmidzi No. 3540, ia menyatakan hadits ini hasan gharib, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, “Wahai Bani Adam, selama engkau masih berdoa kepada-Ku, selama engkau masih beristighfar kepada-Ku, mohon ampun kepada-Ku, Aku pasti akan ampuni kamu seberapa pun dosa-dosamu, dan Aku tidak peduli.” Wala ubali.

Mau banyak kek, mau banyak banget kek, mau sangat banyak kek, mau sangat-sangat banyak kek, mau sangat-sangat-sangat banyak dan parah kek, mau ternyata terulang 2 kali, 3 kali, 4 kali, 5 kali, 7 kali, 20 kali.

مَا دَعَوْتَنِي

selama engkau masih berdoa kepada-Ku

selama engkau masih berdoa kepada-Ku,

وَرَجَوْتَنِي

dan berharap kepada-Ku

masih berharap kepada-Ku. Lihat, harapan tuh penting.

مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي

selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku

selama engkau masih berdoa, mohon ampun, minta ampun. Di antara doa kan istighfar, minta ampun, minta maaf, dan masih punya harapan kepada-Ku. Masih berharap Aku ampuni. Lihat, masih istighfar, masih tobat, masih berharap Allah ampuni kita.

غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي

Aku ampuni engkau atas apa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli

Aku akan ampuni semua dosa-dosamu, dan Aku tidak peduli sebanyak apa dosa tersebut, sebanyak apa pengulangannya, sudah kali berapa ini. Aku tidak peduli.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia

Allah tuh beda dengan makhluk. Jangan samakan. Tidak ada makhluk itu Al-Ghafur, Al-Ghaffar, Al-Afuw yang Maha Pengampun, Maha Pemaaf. Maha Pengampun hanya Allah Tabaraka wa Ta’ala. Jadi ini harus kita kembalikan. Masalah-masalah kita dalam kasus-kasus seperti ini bukan karena tidak mau tobat, tapi karena salah paham tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Host:
Kadang kita merasa kayak, ya itu masalah analogi tadi ya, Ustaz, ya. Kayak kalau di pekerjaan SP3 tuh, atau kalau main game tuh ada nyawanya 3 aja. Selesai dari itu sudah game over atau lu di layoff. Terus kita pakai analogi yang sama ke Allah gitu.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya.

Host:
Sering banget begitu, Ustaz.

Mengapa Kita Berhenti Meminta Maaf?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Atau Ri, yang membuat kita berhenti minta maaf itu bukan karena Allah sudah tidak mau ampuni lagi, tapi bisa jadi karena kita sudah bosan dengan diri kita sendiri. Kita bosan dengan diri kita. Atau kita ukur sifat sabar yang Allah punya dengan kesabaran manusia. Jadi pertanyaannya, siapa yang mengatakan Allah tidak mau mendengarkanmu lagi?

Host:
Iya, siapa ya?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Allah kan yang berfirman. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang bersabda, atau perasaan kita sendiri yang berasumsi demikian.

Host:
Tapi kok ada di diri kita itu, Ustaz? Apakah memang lacking of knowledge-nya itu mencari jawaban dari diri kita sendiri, pikiran kita sendiri itu?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Manusia itu kan kalau tidak punya data, tidak punya ilmu, tidak punya informasi, maka dia akan menggunakan hal lain. Seperti perasaan, asumsi. Makanya data tuh penting. Ilmu tuh penting. Makanya ayat pertama ke Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, “Iqra,” baca. Kita harus kenal sama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya ingat tidak surat Az-Zumar ayat 53?

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Surah Az-Zumar: 39:53)

Coba kita renungkan sejenak ya. Sebagian kita tuh sudah malu menyebut dirinya hamba, sedangkan Allah masih memanggil kita dengan predikat hamba.

يَا عِبَادِيَ

Wahai hamba-hamba-Ku

“Wahai hamba-hamba-Ku.” Jadi masalahnya bukan di Allah, masalahnya di kita. Kita salah paham tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syarat Tobat yang Sebenarnya

Host:
Apa, Ustaz, yang bisa kita atau kita harus pegang, Ustaz, supaya bisa kembali kepada Allah? Kalau kita tuh sudah kehilangan kepercayaan diri karena gagal terus-menerus, Ustaz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Yang kita pegang itu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan syarat tobat yang Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam berikan. Syarat tobat itu apa sih? Ikhlas, menyesal, kan gitu ya. Lalu bertekad tidak mengulangi lagi.

Dan Allah tidak pernah mensyaratkan kita menjamin masa depan. Dan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah mengatakan bahwa kalau kita terjatuh lagi, padahal kita pada saat tobat sebelumnya sudah ikhlas, sudah menyesal, benar-benar menyesal gitu loh. Sudah mengakui, jangan lupa mengakui, terus menyesal, terus bertekad untuk tidak mengulangi lagi. Lalu begitu kita jatuh lagi, otomatis tobatnya itu palsu, fake, hoax, Anda munafik, dan Anda tidak diterima, Anda rejected. Tidak ada ayat begitu. Tidak ada hadits yang bisa mengatakan demikian.

Justru yang ada adalah kamu tobat lagi, gitu kan. Kamu istighfar lagi. Makanya ulama mengatakan bahwa tobat itu kewajiban seumur hidup. Seumur hidup itu berarti ratusan sampai ribuan kali tobat. Dan ada sebagian dosa itu berulang seperti marah. Jadi ini adalah pola kehidupan saat ketika kita jatuh selama hidup kita. Jadi yang kita butuhkan ketika ini sudah berulang kali adalah tobat yang berulang kali lagi. Bukan keputusasaan. Kita tidak butuh keputusasaan. Dan Allah tidak pernah menyatakan demikian.

Makanya jangan samakan dengan manusia. Manusia itu akan mengatakan, “Sudah berapa kali Papa mendengar kamu bilang demikian? Kok kamu tidak berubah-ubah sih?” Kan itu kalimat manusia. “Kok kamu tidak berubah-ubah? Kok kamu tidak sadar-sadar juga? Kok kamu ulang-ulang lagi?” Itu kan kalimat yang sering kita dengar dari manusia. Dari ayah, dari ibu, dari suami, dari istri, dari anak. “Papa selalu gitu, gitu loh. Aku sudah tidak percaya lagi sama Papa.” Misalnya buat janji weekend, eh Papanya meeting. Dan ini sudah ketujuh kali dalam 3 bulan misalnya. Tapi Allah kan tidak demikian.

مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي

Selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau atas apa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli

selama engkau masih berdoa, meminta ampun, beristighfar, berharap kepada-Ku, Aku ampuni semua. Dan Aku tidak peduli berapa kali pengulangannya, berapa kali banyaknya, dan berapa besar dosanya.

Host:
Kalau kita khawatir mempermainkan tobat, ada tidak sih setelah itu, Ustaz?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Tidak. Tidak ada. Selama setiap kita tobat, kita ikhlas, kita mengakui, “Memang gua salah, memang gua bodoh,” lalu kita menyesal, menyesal banget sih, gitu loh. Terus yang keempat, bertekad untuk tidak mengulangi. Bertekad loh, bukan menjamin. Bedakan antara bertekad dan menjamin. Tidak ada syarat menjamin. Tidak ada syarat menggaransi. Anda dimintanya bertekad. Selama bertekad, tidak ada permainan. Kecuali kalau kita tidak ada tekad. Ya cuma kita main-main aja. Tapi kalau sudah bertekad, apalagi sudah air mata keluar.

Host:
Air mata terus mengulang lagi, Ustaz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya. Nah, itu poin. Ya tobat lagi. Teteskan lagi air mata. Dan itu keindahan istighfar dan tobat. Dan itu kerendahan diri seorang hamba di hadapan Rabb-nya.

Host:
Kalau misalnya kita tobat, Ustaz, kita sudah mikir, “Ya Allah, aku tekad, tapi aku tidak tahu akan mengulang lagi tidak. Ini kemungkinan mengulang lagi. Ya Allah.” Gimana, Ustaz?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Pertama, kita tidak disuruh ngomong demikian. Kita diminta ikhlas, mengakui, menyesal, dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi. Sudah, jalanin itu saja.

Host:
Setiap kali mengulang dosa yang sama itu, efek self-loathing-nya itu, membenci dirinya itu, itu kerasa banget gitu loh. Kok jatuh lagi ya? Loser banget dan benci banget.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya, makanya.

Host:
Jatuh lagi. Dan itu compounding gitu efeknya, Ustaz. Gitu kayak berarti kan kita yang butuh sama diri kita. Kita yang kesal sama diri kita. Bukan Allah yang benci kita. Bukan Allah yang tutup pintu kepada kita. Itu tidak boleh kita lupakan.

Hikmah di Balik Dosa dan Tobat yang Berulang

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Coba simak hadits berikut ini. Hadits Muslim. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampunan kepada Allah, maka Allah pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim No. 2749)

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersumpah, “Loh, demi Allah yang jiwaku ada di genggaman-Nya.” Sumpah tuh artinya penekanan. Kiral dan Ori kalau sudah sumpah, “Demi Allah, aku tidak melakukan itu, Pak,” misalnya kata Kiral. Itu sudah penekanan. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sudah bersumpah.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya

demi Allah yang jiwaku berada di genggaman tangan-Nya.

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا

Jika kalian tidak berbuat dosa

kalau kalian berhenti berdosa. Bukan penganjuran loh. Tapi manusia kan pasti dosa gitu. Apa yang terjadi?

لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ

Niscaya Allah akan menghilangkan kalian

Allah akan singkirkan kalian. Allah akan hilangkan kalian.

وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ

Dan mendatangkan suatu kaum

Lalu akan ganti dengan pihak lain, kaum lain. Mereka ngapain?

يُذْنِبُونَ

Yang berbuat dosa

Lalu mereka akan terjatuh dalam dosa.

فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Lalu mereka memohon ampunan kepada Allah, maka Allah pun mengampuni mereka

Lalu mereka akan istighfar dan Allah akan ampuni dosa mereka. Allahu Akbar. Selesai. Itu the ultimate.

Ingat, ini bukan menganjurkan dosa, tapi ini pesan bahwa ya manusia itu khat banyak dosa. Dan justru di situlah kita merasakan kerendahan kita sebagai hamba. Nah, selama kita istighfar ya, di situlah kita akan kehilangan arogansi kita, kesombongan, sok suci, sok pintar, sok hebat. Itu terkikis semua. Lalu kita istighfar kepada Rabbal Alamin. Benar-benar merasa hamba. Bukan hamba yang pintar, hamba yang suci, hamba yang hebat. Enggak. Itu runtuh. Dan itu fungsi. Dan itu kenapa istighfar begitu dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hamba benar-benar merasakan zahir dan batinnya itu rendahnya di hadapan Allah itu kerdilnya.

Bahkan bisa jadi lebih solid sebagai hamba dibanding ketika kita berhasil mendapat sesuatu atau achieve sesuatu. Pada saat kita achieve sesuatu, lisan kita mengucap alhamdulillah, tapi hati kita merasa, “Oh, gua pahlawan. Gua hebat. Sebelum gua salib. Gua jago.” Tapi pada saat kita bertobat di pengulangan ke-70, 72, 73, kita merasa nothing. Kita merasa kotor di hadapan yang Maha Suci, Al-Quddus. Tidak ada lagi ego, tidak ada lagi kesombongan, tidak ada lagi merasa besar. Semuanya runtuh. Dan itu kekuatan istighfar. Dan kita akan jadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan Allah akan sayang sama kita.

Makanya kalau kalian tidak berdosa, Allah ganti. Karena nanti akan ujub. Manusia tuh gitu. Makanya hikmahnya adanya dosa tuh itu. Manusia itu sistem cara mainnya, kalau tidak ini, dia akan merasa ujub atau dia plenggot nanti. Lupa diri dia. Makanya kalau kita sudah salah beberapa kali, kan kita, “Kok gua bego banget ya,” gitu.

Host:
Iya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
“Kok gua bodoh banget ya.” Nah, itu tuh bagus. Tapi koma, berarti gua tidak boleh sok pintar di hadapan yang Maha Mengetahui. Tidak boleh sok kuat di hadapan yang Maha Kuat. Merendah gitu. Lalu perbaiki diri. Nanti Allah kasih taufik dan kita akan lebih baik lagi.

Host:
Jadi hidup kita ini dosa dan tobat saja, Ustaz, sampai mati. Tanpa diskenariokan.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Tanpa diskenariokan. Dosa tobat, dosa tobat, mati dengan amal saleh dan lain-lain. Betul. Betul. Betul. Dan dengan cara begitu kita akan, Allahu Akbar, incline. Akan naik, akan increase terus. Dan kegagalan kita jadi positive failure.

Host:
Saya ada lihat, saya compare orang yang kita tahu dosa dia tuh quite bad gitu kan, tapi melambung sekarang haji, salat, dan lain-lain itu ya. Masya Allah. Ada yang dia yang kita tahu zahir tuh biasa aja, tapi begitu-begitu aja. Itu kenapa ya, Ustaz?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Kita husnuzon ya. Dan yang kedua, the jury is still out (keputusannya belum final). Bisa jadi biasa-biasa aja, besok habis kita bicarakan ini dia naik. Tapi intinya hikmahnya kenapa kita harus menjalani pola seperti ini apa? Ya, untuk kebaikan kita sendiri. Begitu kita merendah, kita akan ditinggikan sama Allah. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Dan tidaklah seseorang bertawadhu (merendahkan diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim No. 2588)

Dan merendah itu kan susah. Dan di antara support system yang Allah kasih kepada kita adalah dengan itu tadi, kita tanpa sengaja berdosa lalu beristighfar. Itu satu paket. Makanya dosa, istighfar, dosa, tobat tuh satu paket baru naik.

Host:
Kadang kayak hati itu menjaga hati keikhlasan ada aja belok-beloknya, Ustaz.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Belok. Iya.

Host:
Astagfirullah. Belok gitu. Astagfirullah. Kenapa kok semudah itu gitu loh? Untuk berdosa itu hati aja nih sering belok-belok, Ustaz. Tapi kalau kita setiap kali belok kita bilang kita ucapin istighfar aman, Ustaz?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya, aman. Manusia tuh begitu, Rek. Kita belajar bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Jerman, apapun. Selama kita salah perbaiki, salah perbaiki, tidak ada isu sama sekali. Kita belajar jalan. Selama kita salah atau jatuh, perbaiki. Jatuh, bangkit lagi, berjalan lagi. Jatuh, bangkit lagi, perbaiki. No issue. Manusia tuh no issue tentang itu. Jadi masalah jatuh berhenti. Salah keluar dari kursus bahasa Arab, kursus bahasa Inggris ya, lu tidak akan bisa.

Jadi biar simpel aja. Pada saat kita belajar second language atau first language lah, mother tongue kita, itu kan kita tidak sengaja. Tidak ada niat. Salah. Kita pengennya benar terus. Tapi apakah begitu pola hidupnya? Tidak bisa. Anda pasti salah. Dan begitu salah, Anda perbaiki. Nah, perbaiki itu kan kembali ke setiap bidang. Dalam dosa, perbaiki itu istighfar, tobat, bangkit lagi. Kita sudah buktikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu membuat sunnatullah itu demikian dan terbukti semakin baik. Asal jangan berhenti gitu loh.

Jangan Pernah Berhenti Berharap dan Beristighfar

Dalam konteks kita, jangan pernah berhenti jadi hamba.

Host:
Ya Rabb.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Jangan pernah berhenti sujud. Jangan pernah berhenti istighfar. Jangan pernah berhenti tobat. Jangan pernah berhenti berdoa. Dan jangan pernah berhenti berharap. Kata Allah, jangan pernah berhenti berharap kepada saya. Harapan kalau hilang sudah memang langsung habis.

Host:
Yordan. Habis. Iya.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Apapun itu pegang hadits ini. Apapun yang itu sekonyol apapun kesalahan kita, sefatal apapun, sebelunder apapun gitu. Bahkan mungkin semua orang-orang sekitar tidak ada yang memaafkan kita. Lu punya Rabb yang akan memaafkan lu. Ya Allah, Anda punya Rabb yang akan kasih kesempatan lagi.

Kita di-blacklist perusahaan keluar, kita dikeluarkan sama perusahaan, atau istri kita minta cerai, atau suami kita ceraiin kita langsung, kita blunder, atau anak kita tidak mau ketemu kita, atau misalnya orang tua kita mengusir kita dari rumah, orang-orang terdekat kita tutup pintu.

مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي

Selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau atas apa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli

Selama engkau terus minta, terus berharap, Saya akan ampuni walaupun yang lain tidak memaafkan Anda. Saya akan ampuni dan Saya tidak peduli. Dan nanti Allah akan buat kondisi akan lebih baik lagi. Karena yang menggerakkan hati orang-orang itu kan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan pernah berhenti istighfar dan jangan pernah berhenti berharap. Mungkin itu.

Pada Akhirnya, Hanya Ada Aku dan Rabb-ku

Host:
Saya selalu ada perasaan kalau at the end of the day it’s just me and my Rabb (pada akhirnya ini hanya tentang aku dan Rabb-ku). Tidak ada lagi tuh kalau saya iya telusuri tidak ada lagi itu. Dan itu tidak datang setiap saat. Oh gitu, Ustaz. Dan itu biasanya datang ketika kita buat kesalahan.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Iya. Kalau Ori berhasil, susah menghadirkan hanya ada aku dengan Rabb-ku. Kenapa? Karena teman memuji. Lalu si A mendekat, si C mengangkat-angkat. Tapi begitu lagi jatuh, hanya ada Allah and me. That’s how I truly feel ya. Bukan sok puitis atau apa. That’s how I truly feel. Di ujung-ujungnya nanti it’s just me and my Rabb. Tidak ada lagi. Me and my Creator. Tidak ada lagi. Tapi itu datang karena I’m a sinner. Iya. Lebih sering karena itu daripada karena yang lain.

Host:
Allahu Akbar.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Karena pada saat kita berhasil, biasnya besar. Pada saat kita jatuh gagal, biasnya kecil karena banyak orang menjauh dari kita.

Host:
Ya Allah. That’s a lot of wisdoms again. Alhamdulillah. Masya Allah. Mind blowing for me especially. Tentu kita juga orang lain. Tapi apa ini core wisdom-nya, Ustaz?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Mulai sekarang jangan samakan Allah dengan makhluk. Allahu Akbar. Allah tuh beda. Allah Ghafur Rahim. Ini masalahnya itu. Bahkan sampai orang-orang di sekeliling kita menjauh tidak percaya, Allah masih menyampaikan: “Aku ampuni engkau dan Aku tidak peduli.” Yang kedua, husnuzan sama Allah dan tadi, tetap istighfar dan tetap berharap, dan jalani hidup dengan pola demikian. Mau 100 kali kek, mau 200 kali kek, 300 kali, 400 kali. Selama hamba-Ku berdoa, minta ampun, minta maaf, dan tetap berharap, Aku akan ampuni.

Penutup

Host:
Masya Allah. Ustaz, thank you so much for the knowledge and insights and wisdom. Sangat bermanfaat untuk kalian berdua dan semoga bermanfaat untuk teman-teman yang menonton. Don’t lose hope. Allah is with us (Jangan kehilangan harapan. Allah bersama kita) dan semoga ketemu lagi di Unspoken berikutnya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

You may also like