Setetes Ilmu – Taqwa
Setetes ilmu sangat berharga, insya Allah akan bisa menambah iman dan taqwa kita. Inilah Setetes Ilmu dari Ustadz Abdulazen, Lc., M.A. Selamat mengikuti.
Sebuah ayat yang familiar di telinga kita, yang sering kita dengar, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Inna akramakum ‘indallahi atqakum
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Surah Al-Hujurat: 49:13)
Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menjelaskan ukuran kemuliaan yang tentunya kebanyakan orang menilai kemuliaan bukan dari ketakwaan, tetapi dari jabatan, kekayaan, atau keturunan. Sehingga, orang setakwa apa pun kalau dia miskin, maka kurang dihormati. Orang setakwa apa pun seandainya dia keturunan orang biasa-biasa saja, maka kurang dihormati. Begitu pula orang setakwa apa pun seandainya dia tidak memiliki jabatan, maka kurang dihormati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa yang mulia bukan yang paling kaya, yang mulia bukan yang paling tinggi jabatannya, yang mulia bukan yang paling ningrat, tetapi yang paling mulia adalah yang paling bertakwa di antara kalian.
Ya, rahimakumullah1. Satu hal yang harus kita ingat bahwa ketakwaan bukan kita dapatkan dengan pengakuan. Ketakwaan bukan diukur dari klaim, “Saya paling bertakwa.” Bukan, tetapi ketakwaan ada ciri-cirinya. Seandainya seseorang memiliki ciri-ciri tersebut, maka dia adalah manusia yang bertakwa. Seandainya tidak, maka tidak.
Ciri-ciri tersebut disampaikan oleh seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang bernama Abdullah bin Zubair Radhiyallahu anhu. Kata beliau:
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ لِأَهْلِ التَّقْوَى عَلَامَاتٍ يُعْرَفُونَ بِهَا وَيَعْرِفُونَهَا مِنْ أَنْفُسِهِمْ
Adapun setelah itu, sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa itu ada tanda-tanda yang dengannya mereka dikenal dan mereka pun mengetahuinya dari diri mereka sendiri. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 35603)
Tersungguhnya orang yang bertakwa itu punya ciri, punya tanda-tanda. Dengan tanda-tanda itu dia bisa diketahui dan dikenali ketakwaannya, dan dia juga bisa menyadari apakah dia bertakwa atau tidak.
Yang pertama, berkata beliau:
مِنْ صَبْرٍ عَلَى الْبَلَاءِ وَرِضًا بِالْقَضَاءِ
(Di antara ciri-ciri mereka adalah) kesabaran dalam menghadapi musibah dan keridaan terhadap takdir. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 35603)
Yang pertama adalah akan ketahuan dari kesabaran dan keridaannya dalam menghadapi musibah yang Allah timpakan kepadanya. Ketika kita menghadapi musibah, kemudian kita bersabar dan kita rida menghadapi ujian tersebut, maka itu ciri yang pertama bahwa kita orang yang bertakwa.
Yang kedua, kata beliau:
وَشُكْرٍ عَلَى النَّعْمَاءِ
Dan bersyukur atas nikmat-nikmat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 35603)
Bersyukur ketika mendapatkan nikmat, sekecil apa pun nikmat tersebut. Maka seandainya ada orang mendapatkan nikmat lalu dia menganggap remeh nikmat itu karena dia pikir itu nikmat yang kecil, berarti dia belum masuk dalam kategori orang yang bertakwa.
Kemudian yang ketiga:
وَذُلٍّ لِحُكْمِ الْقُرْآنِ
Dan tunduk kepada hukum Al-Qur’an. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 35603)
Ciri yang ketiga adalah patuh dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang termaktub dalam Al-Qur’an. Orang yang beriman ketika bertemu dengan ayat Al-Qur’an yang memerintahkan sesuatu, maka dia mengatakan, “Siap.” Dan ketika menemukan ayat Al-Qur’an yang melarang sesuatu, maka dia pun akan tinggalkan tanpa banyak beralasan ini dan itu.
1 Rahimakumullah (رَحِمَكُمُ اللهُ) adalah frasa dalam bahasa Arab yang berarti “Semoga Allah merahmati kalian.”
