Setetes Ilmu – Rahasia Agar Hati Tenang
Konon, ada seorang guru yang masuk ke kelasnya suatu hari dengan membawa sekarung kentang. Murid-muridnya merasa heran, apa gerangan pelajaran yang akan dipelajari hari ini. Ternyata guru itu berkata, “Murid-muridku, siapa di antara kalian yang pernah disakiti oleh orang lain dan masih ingat kejadian tersebut, serta dia dendam kepada orang tadi? Silakan murid-muridku hitung berapa orang yang pernah menyakiti Anda dan Anda dendam.”
Maka murid-murid itu pun berusaha menghitung. Ada yang satu, ada yang dua, bahkan ada yang sampai sepuluh orang yang dia dendami. “Baik, murid-muridku, sekarang di hadapan Pak Guru ada sekarung kentang. Silakan kalian ambil sejumlah orang yang kalian dendami.” Maka mereka pun mengambil, yang satu mengambil satu, yang lima mengambil lima, yang sepuluh mengambil sepuluh. “Sekarang kalian tulis nama orang yang kalian dendami di kentang itu.” Yang paling capek tentunya yang 10 kentang, dia tulis semuanya.
Setelah itu, Pak Guru membagikan plastik. “Kalian masukkan kentang itu ke dalam plastik ini dan tugas kalian adalah membawa plastik yang berisi kentang ini ke mana pun kalian pergi. Kalian tidur, kalian bawa. Kalian ke sekolah, kalian bawa. Kalian ke kamar mandi, kalian bawa. Kalian ke pasar, kalian bawa. Kalian ke lapangan, kalian bawa. Pendek kata, 24 jam kalian bawa.”
Satu hari, dua hari, empat hari, lima hari, mulai murid-murid mengeluh, “Pak Guru, kentangnya busuk, bau!” Pak Guru cuma tersenyum. Sampai sepuluh hari. Ketika 10 hari, Pak Guru itu mengumpulkan para muridnya dan rata-rata muridnya membawa kentang itu sambil menutupi hidungnya dari bau busuk kentang yang selama ini dia bawa.
“Murid-muridku, sepuluh hari kalian membawa kentang busuk, apa rasanya?” “Enggak enak, enggak enak, enggak enak, baunya menyengat.” “Bagaimana dengan orang yang membawa di dalam hatinya perasaan dendam kepada orang lain? Bukan 10 hari, tetapi puluhan tahun, bahkan sampai mati dia membawa kentang busuk di dalam hati. Apa nikmatnya dendam kepada orang? Apa enaknya kita marah memendam perasaan benci kepada orang lain? Kenapa tidak kita maafkan?”
Kerabat muslim, hari ini kita baru saja mendapatkan setetes ilmu. Insya Allah kita akan hadirkan kembali setetes ilmu hanya di Radio Insani Purbalingga.
Keutamaan Memaafkan dalam Islam
Kisah kentang busuk ini menggambarkan betapa beratnya beban dendam yang dipikul seseorang. Dalam Islam, memaafkan adalah salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Khudzil ‘afwa wa’mur bil-‘urfi wa a’ridh ‘anil-jahilin.
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Surah Al-A’raf: 7:199)
Ayat ini secara jelas memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya untuk menjadi pemaaf. Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan, tetapi melepaskan beban emosional yang mengikat hati kita pada kemarahan dan kebencian.
Manfaat Memaafkan
Memaafkan memiliki banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi hubungan sosial. Beberapa di antaranya adalah:
- Ketenangan Hati: Seperti yang digambarkan dalam kisah kentang, dendam hanya akan membawa beban dan kegelisahan. Dengan memaafkan, hati akan menjadi lebih tenang dan damai.
- Pahala dari Allah: Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang pemaaf.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
Wa sari’u ila maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arduhas-samawatu wal-ardhu u’iddat lil-muttaqin. Allazina yunfiquna fis-sarra’i wad-darra’i wal-kaziminal-ghaiza wal-‘afina ‘anin-nas. Wallahu yuhibbul-muhsinin.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Surah Ali ‘Imran: 3:133-134)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan termasuk golongan orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan, yang dicintai oleh Allah.
- Menghilangkan Kebencian: Memaafkan adalah langkah pertama untuk menghilangkan kebencian dan permusuhan, serta membangun kembali hubungan yang lebih baik.
- Kesehatan Mental dan Fisik: Beban dendam dapat memicu stres, kecemasan, dan bahkan masalah kesehatan fisik. Memaafkan dapat mengurangi dampak negatif ini.
Hadits tentang Memaafkan
Rasulullah ﷺ juga banyak mengajarkan tentang pentingnya memaafkan. Salah satu hadits yang relevan adalah:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba karena memaafkan melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya. (HR. Muslim No. 2588)
Hadits ini menegaskan bahwa memaafkan tidak akan mengurangi kemuliaan seseorang, justru akan menambah kemuliaan di sisi Allah. Ini adalah janji dari Rasulullah ﷺ yang patut kita yakini.
Kesimpulan
Kisah kentang busuk adalah analogi yang kuat untuk menggambarkan dampak negatif dari dendam. Sebagaimana kentang yang membusuk dan menimbulkan bau tak sedap, dendam yang dipendam dalam hati juga akan merusak kedamaian jiwa dan kebahagiaan seseorang. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk menjadi pribadi yang pemaaf, melepaskan beban dendam, dan meraih ketenangan hati serta kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
