Setetes Ilmu – Jalan Menuju Surga
Setetes ilmu sangat berharga. Insyaallah, ilmu tersebut akan menambah iman dan takwa kita. Inilah setetes ilmu dari Ustadz Abdulazen, Lc., M.A. Selamat mengikuti.
Kebanyakan dari kita, jika ditanya apa cita-citanya, akan menjawab ingin menjadi orang yang berarti. Maksudnya, orang yang sukses, memiliki perusahaan, jabatan, dan rekening di mana-mana. Namun, seringkali rekening tersebut belum tentu ada isinya. Kita ingin memiliki ini dan itu. Akan tetapi, lihatlah cita-cita tertinggi yang dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, yaitu memiliki surga Allah. Itulah kesuksesan yang hakiki.
Surga itu cita-cita tinggi atau rendah? Tentu saja tinggi, bahkan sangat tinggi. Setiap cita-cita yang tinggi membutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Jalan menuju surga bukanlah jalan yang bertabur bunga, melainkan jalan yang penuh dengan liku-liku. Oleh karena itu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
Terjemahan: Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai, dan neraka itu diliputi dengan syahwat (hal-hal yang disukai). (HR. Muslim No. 2822)
Jalan menuju surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak enak. Sebaliknya, jalan menuju neraka itu enak. Kita memilih yang mana? Jalan yang enak atau yang tidak enak? Masyaallah, siap ini contohnya.
Jalan yang tidak enak, misalnya, saat subuh-subuh yang dingin, tiba-tiba terdengar suara azan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Bangun atau tidak? Godaannya besar karena kasur terasa semakin empuk, selimut semakin tebal, dan air terasa semakin dingin. Berat sekali jalan menuju surga itu.
Begitu pula ketika datang waktu untuk mengeluarkan zakat. Berapa persen zakat? 2,5%. Jika kita memiliki 100 ribu rupiah, 2,5%-nya berapa? Sedikit atau banyak? 2.500 rupiah. Itu sedikit. Tapi masalahnya, jangan bicara 100 ribu rupiah, melainkan 1 miliar rupiah. Dua setengah persen dari 1 miliar rupiah adalah 25 juta rupiah. Sedikit atau banyak? Banyak. Sulit di dalam jiwa ini, memang jalan menuju surga itu sulit, tidak mudah.
Jalan menuju surga membutuhkan perjuangan yang panjang. Ada ujian, ada rintangan. Siapapun yang ingin masuk surga harus melewati ujian dan rintangan tersebut. Jika ingin hidup yang tidak ada ujiannya, di mana? Jika ingin hidup tanpa ujian, adanya di surga. Masalahnya, supaya sampai ke surga, harus melewati dunia. Itu masalahnya.
Ketika kita ingin sampai ke surga, kita harus melewati dunia. Bukan sekadar lewat, tetapi sukses melewati dunia. Perjuangan untuk sukses melewati dunia ini tergantung berapa usia kita, bisa lama bisa sebentar. Jadi, ketika seseorang menghadapi ujian di dunia ini, tergantung umurnya berapa. Ada yang sebentar, ada yang panjang. Yang sebentar itu ada yang satu hari saja tidak sampai, seperti bayi yang baru lahir beberapa jam, ternyata meninggal dunia. Ujiannya cuma sebentar. Tapi ada orang yang ujiannya lama, ada orang yang diberi umur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih dari 100 tahun. Berjuang selama 100 tahun itu berat atau ringan? Jawabannya berat.
Akan tetapi, alhamdulillah, Bapak Ibu yang kami hormati, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat memudahkan jalan itu bagi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan kebaikan bagi kita. Buktinya, Nabi kita Muhammad ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, beliau bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Terjemahan: Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya. (HR. Bukhari No. 6607)
Oleh karena itu, ada istilah husnul khatimah (akhir yang baik), dan ada kebalikannya, yaitu su’ul khatimah (akhir yang buruk). Jika husnul khatimah artinya akhir yang baik, maka su’ul khatimah artinya akhir yang buruk.
Kerabat Muslim, hari ini kita baru saja mendapatkan setetes ilmu. Insyaallah, kita akan hadirkan kembali setetes ilmu, hanya di Radio Insani Purbalingga.
