Hidayah, Karunia Termahal
Setetes ilmu sangat berharga, insyaallah akan bisa menambah iman dan takwa kita. Inilah setetes ilmu dari Ustadz Abdulazen, Lc., M.A. Selamat mengikuti.
Satu hal yang sangat mahal yang kita nikmati saat ini adalah hidayah, hidayah untuk mengenal sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mengapa saya katakan mahal? Hidayah sunah itu sama mahalnya dengan hidayah Islam. Dari sekian triliun manusia yang hidup di muka bumi ini, berapa di antara mereka yang mendapatkan hidayah memeluk agama Islam? Kemudian, dari sekian miliar orang yang beragama Islam, berapa persen di antara mereka yang hatinya terbuka untuk mau mendalami agama? Dari sekian orang Islam yang mendalami agama, berapa persen di antara mereka yang benar di dalam mendalami agama? Dan dari sekian orang yang mendalami agama dan benar di dalam mendalaminya, berapa persen di antara mereka yang mau mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan?
Saya ulangi, dari sekian triliun manusia yang ada di muka bumi ini, berapa yang mendapatkan hidayah memeluk agama Islam? Dari sekian miliar orang yang memeluk agama Islam, berapa yang hatinya terbuka mau mendalami agama Islam? Karena tidak setiap muslim hatinya tergerak untuk mendalami agama Islam. Dan dari sekian yang tergerak hatinya mendalami Islam, berapa persen di antara mereka yang pas memilih manhaj1 yang benar? Ada yang katanya mendalami, ternyata mendalami sesuatu yang keliru. Dan barangkali di antara hadirin sekalian, di antara pemirsa juga mungkin ada yang merasakan pernah mengalami fase-fase keliru dari satu jalan ke jalan yang lain. Dari sekian orang yang mendalami dan benar, berapa persen di antara mereka yang mau mengamalkan apa yang sudah didapat?
Makanya tadi saya katakan di awal bahwa hidayah mengenal sunah, mengamalkan sunah itu merupakan sesuatu yang sangat mahal yang tidak bisa diganti dengan dunia seisinya sekalipun. Jadi, kalau kita disuruh memilih antara dunia seisinya dengan hidayah, seharusnya kita akan memilih apa? Hidayah. Karena ini sesuatu yang mahal, karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka wajib hukumnya untuk kita syukuri. Kalau tidak kita syukuri, terancam kita dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
La’in syakartum la’azīdannakum, wa la’in kafartum inna ‘ażābī la syadīd.
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Surah Ibrahim: 14:7)
Seandainya kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat tersebut. Wa in kafartum, seandainya kalian kufur, tidak mau bersyukur atas nikmat tersebut, inna ‘azabi la syadid, ketahuilah bahwa siksaan-Ku itu sangatlah pedih. Dan di antara bentuk siksaan Allah buat orang-orang yang sudah mendapatkan hidayah kemudian dia tidak mensyukurinya, dicabutnya hidayah tersebut dari orang tadi. Pernahkah melihat orang awalnya rajin, kemudian setelah itu meninggalkan? Pernahkah? Awalnya semangat belajar, kemudian tahu-tahu setelah itu hilang, yang hilang dari peredaran. Tahu-tahu sudah jauh.
Bagaimana cara kita mensyukuri hidayah tersebut? Antara lain adalah berusaha menularkan hidayah itu kepada orang lain. Jadi, setelah kita mendapatkan hidayah, jangan dimakan sendiri. Usahakan ditularkan kepada orang lain. Makanya di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berpesan:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
Ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmah
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah. (Surah An-Nahl: 16:125)
Ini perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada seorang dai asalnya dari Kuwait, Dr. Abdurrahman Sumait. Aslinya beliau adalah seorang dokter internis, dokter penyakit dalam. Beliau mengambil S1-nya di Baghdad, terus kemudian melanjutkan magisternya di Liverpool, Inggris, dan melanjutkan program doktoralnya di Kanada. Sudah memiliki pekerjaan yang luar biasa di rumah sakit Kuwait dengan penghasilan yang besar sekali. Akan tetapi, beliau tinggalkan itu semua. Beliau pergi ke pedalaman Afrika mengajak orang untuk masuk ke dalam agama Islam.
Ketika ada orang masuk dalam agama Islam setelah mengucapkan syahadat, orang-orang Afrika tadi pada nangis, nangis sedih dan bahagia. Bahagia karena mendapatkan hidayah, nangisnya karena, “Kenapa kok kalian kaum muslimin baru datang sekarang ke Afrika? Dulu-dulu kalian pada ke mana? Sehingga orang tua-orang tua kami tidak menikmati dan belum sempat menikmati indahnya Islam. Mereka meninggal dalam keadaan kufur. Ke mana kalian wahai kaum muslimin?” Kata orang-orang Afrika itu kepada beliau. Dan ini sangat menyentuh hati beliau sehingga setelah itu beliau dedikasikan seluruh umurnya untuk berdakwah di negeri Afrika.
Padahal beliau terjangkiti penyakit-penyakit luar biasa. Beliau kena diabetes, beliau juga punya ginjal, beliau juga tensinya tinggi. Akan tetapi, semuanya beliau tidak pedulikan. Tinggal di pedalaman Afrika, seluruh kenikmatan-kenikmatan duniawi dia tinggalkan. Dia hanya di sana tidur beralaskan tikar, beratapkan langit, kadang-kadang terancam hewan buas di sana-sini. Akan tetapi, subhanallah, dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, selama 29 tahun beliau berdakwah di pedalaman Afrika, berapa orang yang berhasil diislamkan? 11 juta orang! Satu orang dai mengislamkan 11 juta penduduk Afrika. Tidak cukup banyak itu, dia juga bisa membangun 5.500 masjid di berbagai penjuru Afrika. Beliau juga mengkader 40.000 dai, ustaz, guru, dan yang semisal yang juga terlibat program-program sosial membangun 11.000 sumur. Satu orang. Dan beliau meninggal pada tahun 1434 Hijriyah atau 2013 Masehi. Tetapi beliau meninggalkan sesuatu yang berharga.
Nah, sekarang kira-kira ketika kita meninggal nanti, apa yang mau kita tinggalkan di dunia ini? Sudah berapa orang yang kita dakwahi sehingga mendapatkan hidayah? Bahkan mungkin orang tua kita sampai saat ini belum mengenal sunah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sampai nanti meninggalnya orang tua kita, apa yang sudah kita tularkan kepada mereka? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah berpesan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Yā ayyuhallażīna āmanū hal adullukum ‘alā tijāratin tunjīkum min ‘ażābin alīm
Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Surah As-Saff: 61:10)
Wahai orang-orang yang beriman, maukah kalian Ku beritahu sebuah perdagangan yang akan menyelamatkan kalian dari siksaan yang sangat pedih? Jadi, kalau kita mau berdagang dengan perdagangan itu, maka kita akan selamat dari siksaan neraka. Perdagangan apa kira-kira? Jualan ubi? Apa kira-kira? Allah lanjutkan firman-Nya:
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
Tu’minūna billāhi wa rasūlihī
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. (Surah As-Saff: 61:11)
Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Pondasi beriman kita sendiri paham terlebih dahulu akidah yang benar, tauhid yang benar, cara beribadah yang benar. Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Cukup sampai di situ? Tidak. Allah lanjutkan:
وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ
Wa tujāhidūna fī sabīlillāhi bi’amwālikum wa anfusikum
Dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. (Surah As-Saff: 61:11)
Kalian berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian.
Kerabat Muslim, hari ini kita baru saja mendapatkan setetes ilmu. Insyaallah kita akan hadirkan kembali setetes ilmu hanya di Radio Insani Purbalingga.
1 Manhaj adalah metode atau jalan yang ditempuh dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam.
