❤️🔥Korek Api ⚠️
﷽
Korek api itu kecil. Tapi di kepalanya ada potensi api.
Ia bisa lama tersimpan di kotak, rapi, diam, tidak berbahaya. Sampai suatu hari ia digesek. Barulah keluar nyalanya.
Begitu juga remaja. Di dalam dirinya ada energi besar: ingin mencoba, ingin diakui, ingin punya ruang, ingin dipercaya, ingin merasa dirinya bukan lagi anak kecil.
Potensi itu tidak keluar kalau hanya disimpan. Ia perlu disentuh, ditemani, diarahkan, dan kadang “digesek” oleh tantangan yang tepat.
Tapi api kecil tidak cukup hanya dinyalakan. Ia harus tahu ke mana ia diletakkan. Api di kompor bisa memasak. Api di lilin bisa menerangi. Api di tungku bisa menghangatkan. Api di lampu minyak bisa menemani perjalanan malam.
Tapi api yang jatuh ke tirai, ke kertas, ke tumpukan jerami, bisa menjadi awal kebakaran besar. Bukan karena api selalu buruk. Tapi karena api tanpa arah akan mencari apa saja untuk dibakar.
Remaja pun begitu. Semangatnya bukan musuh. Rasa ingin tahunya bukan dosa. Keinginannya untuk punya suara bukan pembangkangan. Keberaniannya mencoba bukan selalu tanda rusak. Namun semua itu butuh tempat yang benar.
Butuh ilmu. Butuh adab. Butuh batas. Butuh teman yang baik. Butuh rumah yang bisa menjadi tempat kembali. Butuh orang tua yang tidak hanya sibuk memadamkan, tapi juga mengajarkan untuk apa api itu dinyalakan.
Karena jika semua api dalam dirinya kita matikan, kita mungkin mendapat anak yang “tampak” tenang, tapi kehilangan daya. Takut mengambil peran. Takut bertanya. Takut memilih. Takut menjadi dirinya.
Namun jika api itu kita biarkan liar, ia bisa membakar dirinya sendiri. Hawa nafsu. Pergaulan. Layar. Validasi. Rasa penasaran. Amarah. Cinta yang belum tahu arah. Keinginan bebas tanpa tanggung jawab.
Maka pengasuhan remaja tidak bisa hanya berupa larangan. Larangan itu penting, tapi larangan tanpa arah hanya membuat api mencari jalan sembunyi.
Masa remaja adalah fase ketika kepekaan terhadap reward, pengakuan, dan pengaruh teman meningkat, sementara kendali diri dan pertimbangan jangka panjang masih bertumbuh. Mereka bisa “tampak” berani, keras, dan yakin, padahal bagian dalam dirinya masih belajar membaca akibat.
Dan dalam Islam, baligh bukan berarti selesai dibimbing. Baligh adalah pintu amanah. Ia mulai menjadi mukallaf. Ia mulai bertanggung jawab di hadapan Allah. Tapi ia tetap perlu dibimbing agar dewasa bukan hanya fisiknya, melainkan juga akal dan jiwanya.
Maka tugas kita bukan menjadikan remaja seperti korek api yang tidak pernah menyala. Tugas kita adalah mengarahkan dan membimbing menjadi “api” yang tahu kepada siapa ia tunduk, untuk apa ia menyala, dan di mana ia harus berhenti.
Tauhid adalah kompasnya. Syariat adalah pagarnya. Adab adalah cara ia menyala tanpa membakar. Ilmu adalah jalan yang meneranginya. Dan doa adalah pengakuan bahwa hati mereka bukan milik kita.
Kita perlu memberi “gesekan” yang tepat, menjaga dari angin yang merusak, menjauhkan dari bahan yang mudah terbakar, lalu meletakkannya di tempat yang Allah ridhai.
Karena api yang sama bisa menjadi kebakaran. Bisa juga menjadi cahaya.
Maka jangan hanya takut melihat remaja menyala. Takutlah jika ia menyala tanpa tauhid. Takutlah jika ia besar tanpa arah. Takutlah jika ia kuat tanpa adab.
Dan takutlah jika kita terlalu sibuk memadamkan, sampai lupa menuntunnya menjadi cahaya bagi dirinya, rumahnya, umatnya, dan zamannya.
Semoga Allah menyalakan potensi anak-anak kita dengan cara yang Dia ridhai, menjaga nyalanya agar tidak membakar diri dan orang lain, menuntunnya menjadi cahaya yang bermanfaat bagi agama, keluarga, dan umat; serta menjadikan kita orang tua yang tidak tergesa memadamkan, tidak lalai membiarkan, tetapi sabar membimbing dengan ilmu, kasih sayang, adab, dan tauhid. Ya Allah, genggam hati mereka ketika tangan kami tak sampai, jaga mereka saat mata kami tak melihat, dan jadikan mereka pemuda-pemudi yang kuat menyala di atas ketaatan kepada-Mu. Aamiin.
