Share

Proporsional dalam Mengumpulkan Bekal

Proporsional dalam mengumpulkan bekal

Proporsional dalam mengumpulkan bekal kehidupan kita di dunia ini tidak pernah lepas dari yang namanya perjalanan. Setiap dari kita pasti mengalami sesuatu yang namanya perjalanan. Terkadang perjalanan itu jaraknya dekat, dan terkadang jaraknya jauh. Misalnya, perjalanan jarak dekat adalah bepergian dari Purbalingga ke Purwokerto. Sedangkan perjalanan jarak jauh adalah bepergian ke Sumatera. Semua orang pernah melakukan perjalanan, entah itu jaraknya dekat atau jauh. Tentunya, ketika jarak perjalanan berbeda, persiapan kita pun juga akan berbeda. Bekal yang kita siapkan untuk perjalanan yang dekat dengan perjalanan yang jauh juga berbeda. Bahkan, untuk perjalanan satu pekan, kita bisa menabung selama berbulan-bulan.

Yang kami hormati, semua dari kita akan mengalami dua perjalanan: satu perjalanan jarak dekat dan satu perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak dekat adalah perjalanan kita di dunia ini, sedangkan perjalanan jarak jauh adalah perjalanan kita ke akhirat nanti. Mengapa perjalanan di dunia ini disebut dekat? Padahal, ada yang hidup 60 tahun, 70 tahun, 80 tahun, bahkan ada yang 90 tahun dan 100 tahun. Perjalanan selama 60 tahun itu dekat karena kita bandingkan dengan perjalanan ke akhirat yang lamanya selama-lamanya. Bekal kita untuk perjalanan 60 tahun dengan bekal kita untuk perjalanan selama-lamanya, apakah sama? Tentu saja berbeda.

Oleh karena itu, ada seorang bijak yang mengatakan:

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ بِقَدْرِ مَقَامِكَ فِيهَا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ بِقَدْرِ بَقَائِكَ فِيهَا

Carilah bekal untuk duniamu sesuai dengan jatah umurmu di dunia, dan beramallah untuk akhiratmu sesuai dengan jatah umurmu di akhiratmu.

Ini namanya adil. Untuk dunia, 60 tahun bekalnya. Tidak perlu kita mencari bekal sampai tujuh turunan. Cukup untuk kita saja. Kira-kira 60 tahun butuh berapa? Cukup. Untuk akhirat sekarang kita lihat. Perjalanan kita di akhirat akan jutaan, miliaran, triliunan tahun. Kira-kira sekarang kita mengumpulkan bekalnya sudah proporsional atau belum? Proporsional artinya sebanding, sudah wajar atau belum?

Sekarang coba, dengan kerja sehari berapa jam? Delapan jam. Siapa yang mengaji sehari delapan jam? Kerja kita sehari delapan jam. Delapan jam itu untuk bekal apa? Dunia. Delapan jam untuk kerja, sisanya berapa jam? Dua puluh empat dikurangi delapan belas jam. Saya ingin mengaji. Atau menggendong anak, berapa anak? Saya menokok karoke, berapa anak? Saya berpengaruh, saya berpengaruh, saya berpengaruh. Kemudian berakhirnya di mana? Oh, berarti orang tidak perlu kerja? KERJA! Tetap kita harus kerja karena sekarang kita hidup di dunia. Di dunia perlu bekal. Jangan kita jadi pengemis. Islam sangat memuliakan orang yang mau bekerja, tapi yang wajar. Bekerja itu waktunya salat, salat. Itu bekal kita ke akhirat. Waktunya membaca Al-Qur’an, waktunya hadir pengajian, hadir pengajian. Pentingnya niat, pentingnya apa? Niat.

Jadi, dengan bekerja delapan jam itu bisa jadi bekal pahala. Walaupun kita mencangkul, tujuh salat ya, tapi apa? Maju. Tentu salat, tapi garam bangunan. Tapi selama delapan jam kita bekerja itu, kita bisa dapat pahala. Bagaimana, Ustaz? Niat. Jadi, pas Anda berangkat dari kamar, dari bedeng, atau berangkat dari rumah mau ke sawah, niatnya apa? “Ya Allah, saya bekerja ini niatnya untuk memberikan nafkah buat anak dan istri saya. Saya bekerja ini supaya saya tidak jadi pengemis sehingga saya punya bekal untuk hidup saya. Saya menjadi manusia yang terhormat karena tidak meminta-minta. Saya bekerja ini karena saya ingin menafkahi kedua orang tua saya yang sudah lanjut usia. Saya bekerja ini karena saya ingin punya duit buat sedekah.” Ketika Anda berangkat kerja dengan hati seperti itu, delapan jam Anda dalam lumpur, dalam semen, dalam pasir, Anda akan dapat pahala.

Berarti seorang tidak perlu salat lagi, Ustaz? Tetap perlu. Pokoknya salatnya. Mengaji itu yang pokok. Yang tadi itu adalah seripilanseripilan pahala tambahan. Maka, yang proporsional-lah dalam mengumpulkan bekal.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Wa tazawwadū fa inna khaira az-zādi at-taqwā

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (Surah Al-Baqarah: 2:197)

Dan mudah-mudahan bermanfaat.

You may also like