Share

Waktu Kita untuk Apa

Waktu kita untuk apa

Setetes ilmu sangat berharga. Insya Allah, ilmu ini akan menambah iman dan takwa kita. Inilah Setetes Ilmu dari Ustadz Abdulazen, L.C., M.A. Selamat mengikuti.

Banyak di antara kita yang sudah tidak asing dengan ayat berikut ini:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn.

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. (Surah Az-Zariyat: 51:56)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala barusan menjelaskan bahwa satu-satunya tujuan Dia menciptakan kita di muka bumi adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Namun, sayangnya, banyak dari kita justru mengabaikan tujuan utama tersebut. Kita lebih sibuk dengan remeh-temeh urusan lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan peribadahan kepada Allah, sehingga justru melupakan aktivitas ketaatan kepada-Nya.

Kaum muslimin yang kami hormati, berapa jam dalam sehari kita menyempatkan waktu untuk belajar agama, untuk membaca dan mengkaji Al-Qur’an, untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Berapa rupiah uang yang kita sisihkan setiap bulan untuk bersedekah di jalan Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menunjukkan karakter kita sebenarnya, yang lebih banyak menghabiskan waktu dan harta untuk urusan dunia dibandingkan akhirat.

Kita seolah makhluk yang super sibuk, sehingga untuk beribadah kepada Allah saja seakan harus menyempat-nyempatkan. Padahal, seluruh waktu, seluruh umur, bahkan seluruh hidup kita seharusnya kita persembahkan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn.

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (Surah Al-An’am: 6:162)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Allah itu Maha Adil. Namun, kenapa kita tidak berbuat adil kepada Allah? Ketika ada SMS atau WA masuk, kita begitu bergegas untuk membaca dan membalasnya. Namun, mengapa saat Allah memanggil-manggil kita agar kita menghadap kepada-Nya, justru kita begitu berani untuk menunda-nundanya?

Ketika bos, komandan, majikan, atau atasan memanggil, betapa takutnya kita sehingga dengan cepat kita menghadap kepadanya. Tetapi, ketika panggilan Tuhan berkumandang, alangkah berani dan lambannya kita untuk memenuhi panggilan tersebut. Padahal, yang memanggil kita saat itu adalah Tuhannya bos, yang memanggil kita saat itu adalah Penguasa-Nya semua penguasa.

Betapa kecilnya nominal uang ketika kita sedang berhadapan dengan penjual baju. Alangkah murahnya nilai satu juta ketika kita sedang shopping. Betapa kecilnya angka seratus ribu ketika kita belikan pulsa. Namun, ketika ada kotak infak berlalu di hadapan kita, atau ada anak yatim yang kesusahan hidup, berapa gerangan lembaran rupiah yang akan kita keluarkan dari dompet kita? Mengapa lembaran merah seratus ribu menjadi begitu besar nominalnya tak dibawa ke masjid dan begitu kecil ketika dibawa ke mall? Alangkah pelitnya kita untuk urusan akhirat dan borosnya kita untuk urusan dunia.

Mengapa saat salat atau membaca Al-Qur’an kita tidak kerasan dan kita mengeluh kepanjangan? Jangankan khusyuk, bahkan menyadari apa yang sedang dibaca saja tidak sempat. Betapa lamanya 15 menit jika kita gunakan untuk beribadah kepada Allah, dan betapa singkatnya 15 menit ketika digunakan untuk nonton film. Betapa asyiknya apabila pertandingan bola ada perpanjangan waktu, tapi ketika mendengar khutbah Jumat lebih lama sedikit dari biasanya, kita begitu ringan untuk mengeluh bahkan menggerutu.

Berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca koran, untuk membaca pesan-pesan WA, untuk membaca ratusan status Facebook? Lalu bandingkan berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca surat cinta dari Sang Tuhan, itu adalah Al-Qur’an. Betapa sulitnya menyempatkan waktu untuk membaca satu halaman kitab suci, dan alangkah mudahnya membaca ratusan halaman novel.

Kita lebih sering menghabiskan sisa usia kita dengan obrolan-obrolan tanpa makna, atau menghabiskannya untuk berzikir dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah sulitnya merangkai kata demi kata saat berdoa kepada Allah Ta’ala, namun begitu mudahnya menyusun kalimat-kalimat panjang ketika menggunjing tetangga, bergosip dengan teman, atau mengobrol tanpa makna.

Betapa banyak orang yang katanya takut kepada neraka, tapi kelakuannya justru mengantarkan dia ke neraka. Dan betapa banyak orang yang katanya ingin masuk surga, tapi justru kelakuannya menjauhkan dia dari surga sejauh-jauhnya.

You may also like